Transmigrasi Patriot Libatkan 2.000 Peneliti Kaji Potensi Daerah
Kamis, 27 November 2025, 15:44:39 WIB
JAKARTA, BERITA SENAYAN – Kementerian Transmigrasi semakin memperkuat pendekatan berbasis riset dalam pembangunan kawasan transmigrasi melalui program Transmigrasi Patriot, yang melibatkan ribuan akademisi dari berbagai perguruan tinggi. Program ini menjadi tonggak baru dalam upaya meningkatkan kualitas SDM dan merancang pengembangan ekonomi kawasan secara lebih ilmiah.
Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi saat menerima jajaran Pengurus Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI) di Kantor Kementerian Transmigrasi, Kalibata, Jakarta, Kamis (27/11).
Menurut Viva Yoga, transmigrasi kini telah berevolusi dari sekadar pemindahan penduduk menjadi strategi pembangunan ekonomi terintegrasi yang bertujuan menciptakan kawasan produktif dan berorientasi nilai tambah.
“Transmigrasi sekarang bukan hanya menyediakan tempat tinggal, tetapi membangun ekosistem ekonomi dan kehidupan yang berkelanjutan,” ujarnya.
2.000 Peneliti Turun ke 154 Kawasan
Program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) menjadi fase pertama dari Transmigrasi Patriot. Sebanyak 2.000 peneliti—guru besar hingga mahasiswa S1–S3—diterjunkan ke 154 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia.
Mereka berasal dari tujuh universitas nasional seperti UI, UGM, ITB, IPB, Undip, Unpad, dan ITS, serta 17 perguruan tinggi daerah.
TEP bertugas melakukan riset potensi unggulan, mengukur kebutuhan ekonomi lokal, serta memberikan rekomendasi pengembangan kawasan. Hasil riset tersebut nantinya menjadi basis perencanaan pembangunan transmigrasi yang lebih tepat guna.
“Mereka meneliti potensi unggulan dan model kelembagaan ekonomi yang tepat untuk masing-masing kawasan,” jelas Viva Yoga.
Program TEP berlangsung selama empat bulan, dari Agustus hingga Desember 2025.
Memasuki tahun berikutnya, Transmigrasi Patriot akan dilanjutkan dengan Beasiswa Patriot, program pendidikan S2 dan S3 bagi 1.000 mahasiswa. Skema ini menggabungkan pembelajaran jarak jauh dengan penugasan lapangan di kawasan transmigrasi.
Peserta beasiswa akan mengaplikasikan pengetahuan akademik secara langsung dalam pengembangan ekonomi wilayah.
Viva Yoga menegaskan bahwa berbagai program tersebut dirancang untuk menjawab tantangan rendahnya tingkat pendidikan transmigran saat ini—SD 30,96%, SMP 21,13%, dan SMA 42,26%.
Ia menilai pendekatan ilmiah dan kolaboratif sangat penting untuk mempercepat kemajuan ekonomi berbasis potensi daerah.
“Ini adalah jembatan strategis untuk mempertemukan kekuatan modal dengan kebutuhan rakyat. SDM unggul adalah kunci pembangunan kawasan transmigrasi,” tegasnya.
Pertemuan dengan ILUNI UI tersebut membahas peran perguruan tinggi dan alumni dalam mendukung agenda transmigrasi berbasis riset dan inovasi (red).
Berita terkait
Transformasi Digital Jadi Fokus Baru Pengajian...
Pengajian Al Hidayah Lantik Pengurus Baru...
PIRA Wujudkan Amanat Prabowo Lewat Aksi...
Pengajian Al-Hidayah Ajak Lansia Hidup Sehat...
Rustini Gaungkan Gerakan Ayo Membaca di...
Rustini Dorong Pemerataan Kesejahteraan Perempuan di...
Berita Terbaru
Transformasi Digital Jadi Fokus Baru Pengajian...
Pengajian Al Hidayah Lantik Pengurus Baru...
