Berita Senayan
Network

Said Abdullah: PDIP Tak Akan Tinggalkan NU Demi Rakyat

Redaksi
Laporan Redaksi
Minggu, 12 April 2026, 21:43:22 WIB
Said Abdullah: PDIP Tak Akan Tinggalkan NU Demi Rakyat
Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah dalam acara Halal Bihalal DPD PDI Perjuangan Jawa Timur di Surabaya, Minggu (12/4/2026).



SURABAYA, BERITA SENAYAN – Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah, menegaskan komitmen partainya untuk terus berjalan bersama Nahdlatul Ulama dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat, khususnya di Jawa Timur. Menurut Said, hubungan antara PDI Perjuangan dan NU bukan sekadar kedekatan politik semata, melainkan telah terjalin kuat secara sosial dan ideologis sejak lama.

“PDI Perjuangan, apalagi di Jawa Timur, tidak akan meninggalkan NU,” ujar Said dalam acara Halal Bihalal DPD PDI Perjuangan Jawa Timur di Surabaya, Minggu (12/4/2026).

Ia menjelaskan, masyarakat Jawa Timur selama ini dikenal memiliki basis “ijo-abang”, yakni kelompok santri yang merepresentasikan NU dan kelompok nasionalis yang identik dengan PDI Perjuangan. Namun, ia menilai sekat tersebut kini semakin mencair.

“Di berbagai survei nasional, pemilih yang mengaku NU ternyata banyak menyalurkan suaranya ke PDI Perjuangan,” ungkapnya.

Menurut Said, fenomena tersebut menunjukkan adanya irisan kepentingan antara kelompok santri dan nasionalis, terutama dalam menghadapi persoalan sosial yang sama, seperti kemiskinan, keterbatasan akses pendidikan, dan sulitnya mendapatkan pekerjaan layak.

“Santri dan abangan ini hanya beda sehelai bulu. Tapi nasibnya sama—sama-sama miskin, sama-sama tertinggal dari sisi pendidikan, dan sama-sama kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak,” tegasnya.

Ia menilai, kolaborasi antara NU dan PDI Perjuangan menjadi penting dalam menjawab tantangan tersebut. NU berperan dalam pemberdayaan umat di tingkat sosial, sementara PDI Perjuangan mendorong kebijakan publik yang berpihak pada rakyat.

Selain itu, Said menegaskan bahwa PDI Perjuangan juga mengadopsi nilai-nilai Islam Wasathiyah yang moderat, adil, dan toleran—sejalan dengan ajaran yang selama ini dijunjung oleh NU.

“Keislaman kita harus memayungi, memberi rahmat, dan kedamaian, bukan menakutkan, terutama bagi kelompok minoritas,” jelasnya.

Ia juga menyambut positif keterlibatan tokoh-tokoh NU yang bergabung dan berkiprah di PDI Perjuangan, seraya berharap semakin banyak ulama dan tokoh pesantren yang turut berkontribusi dalam politik kebangsaan.

Dalam kesempatan itu, Said turut menyinggung fenomena maraknya kepalsuan di era digital. Ia mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak dalam menerima informasi di tengah kondisi yang disebutnya sebagai era post-truth.

“Kita mengalami kesulitan membedakan benar dan salah, antara kejujuran dan kebohongan,” ujarnya.

Sebagai penutup, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga nilai kejujuran dan memperkuat silaturahmi dalam kehidupan sosial maupun politik.

“Sering-sering bertabayun, menjaga silaturahmi, dan membuka hati. Dalam berpolitik juga harus konsisten, adil, dan tidak menghasut,” pungkasnya (red)