Sari Yuliati: Jejak Sunyi Perempuan Golkar di Puncak Senayan
JAKARTA, BERITA SENAYAN – Di panggung politik yang kerap riuh oleh suara-suara keras dan dominasi laki-laki, nama Sari Yuliati hadir dengan ketenangan yang tidak banyak mencari sorotan, namun perlahan ia menegaskan kekuatannya. Ia bukan sekadar politisi. Ia adalah jejak panjang ketekunan tentang seorang perempuan yang berjalan tanpa gaduh, tetapi sampai di puncak kekuasaan legislatif.
Sejarah mencatat, ia menjadi perempuan pertama dari Partai Golkar yang berhasil menembus kursi Wakil Ketua DPR RI. Sebuah capaian yang bukan hanya personal, tetapi juga simbol perubahan dalam lanskap politik nasional.
Lahir di Jakarta pada 2 Juni 1976, Sari tumbuh dalam disiplin pendidikan yang membentuk karakter. Dari SDN Duren Sawit hingga SMA Negeri 81 Jakarta, ia menapaki masa remaja dengan keseriusan akademik yang menonjol. Kecerdasannya bukan sekadar angka di rapor, tetapi ketekunan yang teruji oleh waktu.
Langkahnya berlanjut ke dunia teknik, sebuah pilihan yang tidak lazim bagi banyak perempuan pada masanya. Di Universitas Trisakti, ia menekuni Teknik Sipil dan lulus sebagai salah satu mahasiswa terbaik. Dunia konstruksi mengajarkannya tentang struktur, tentang fondasi, tentang bagaimana sesuatu yang besar harus dibangun dari dasar yang kuat.
Namun hidupnya tidak berhenti pada satu disiplin ilmu. Ia melanjutkan studi magister di Universitas Indonesia, dan di tengah kesibukan sebagai politisi, ia kembali menempuh pendidikan hukum di Universitas Kristen Indonesia, hingga kini melanjutkan studi doktoral di Universitas Padjadjaran. Bagi Sari, belajar bukan fase, melainkan perjalanan seumur hidup.
Karier politiknya dimulai dari ruang-ruang kaderisasi, bukan dari panggung utama. Ia tumbuh bersama Angkatan Muda Partai Golkar, mengelola organisasi dari balik layar sebagai bendahara, sebuah posisi yang menuntut ketelitian, kepercayaan, dan integritas. Dari sana, jalannya menanjak perlahan, namun pasti: Wakil Sekretaris Jenderal, Wakil Bendahara Umum, hingga akhirnya dipercaya menjadi Bendahara Umum DPP Golkar.
Di balik perjalanan itu, tersimpan satu keyakinan yang ia pegang teguh tentang peran perempuan dalam politik.
“Partai Golkar telah memberi ruang luas bagi kader perempuan untuk berkontribusi. Sekarang waktunya kita buktikan bahwa kader perempuan mampu menjadi motor perubahan bangsa.”
Kutipan itu bukan sekadar pernyataan, melainkan cermin dari perjalanan dirinya sendiri, seorang perempuan yang membuktikan bahwa ruang yang diberikan harus dijawab dengan kerja nyata.
Langkahnya ke Senayan dimulai pada Pemilu 2019, ketika ia terpilih sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan Nusa Tenggara Barat II. Dari Lombok hingga Mataram, kepercayaan rakyat mengalir dalam angka suara yang tidak kecil. Pada periode berikutnya, ia kembali terpilih dengan dukungan yang lebih besar—sebuah tanda bahwa kehadirannya tidak sekadar formalitas, tetapi dirasakan.

Sari Yuliati saat menjadi Pimpinan Komisi III DPR RI
Di parlemen, ia ditempatkan di Komisi III, ruang yang berbicara tentang hukum, hak asasi manusia, dan keamanan. Bidang yang keras, penuh dinamika, dan sering kali tak ramah bagi mereka yang tidak siap. Namun Sari justru menemukan pijakannya di sana, hingga dipercaya menjadi Wakil Ketua Komisi III DPR RI.
Ia memahami bahwa hukum bukan sekadar teks, tetapi juga rasa keadilan yang hidup di tengah masyarakat.
“Perempuan memiliki perspektif empatik dan integritas yang kuat. Keterlibatan mereka dalam proses legislasi dan kebijakan publik akan memperkaya substansi hukum dan memperkuat keadilan sosial.”
Dari kalimat itu, terlihat bagaimana ia memandang politik: bukan sekadar arena kekuasaan, tetapi ruang untuk menghadirkan keadilan yang lebih manusiawi.
Puncak perjalanan itu datang ketika ia dipercaya menjadi Wakil Ketua DPR RI, menggantikan Adies Kadir yang beralih menjadi hakim Mahkamah Konstitusi. Sebuah momen yang tidak hanya menandai kenaikan posisi, tetapi juga membuka babak baru bagi representasi perempuan di tingkat tertinggi parlemen.

Sari Yuliati saat disumpah menjadi Wakil Ketua DPR RI
Sebagai pimpinan DPR yang membidangi ekonomi dan keuangan, tanggung jawab yang ia emban bukanlah hal ringan. Ia harus menjembatani kepentingan negara, rakyat, dan dinamika global yang terus berubah. Namun seperti dalam ilmu teknik yang pernah ia pelajari, ia memahami bahwa setiap struktur besar membutuhkan keseimbangan.Di luar dunia politik, Sari adalah seorang ibu, seorang istri, dan penjaga harmoni keluarga. Dalam keseharian yang padat, ia tetap merawat peran domestik dengan kesadaran penuh. Penghargaan Wonder Woman Awards 2025 yang ia terima menjadi simbol bahwa kepemimpinan tidak harus mengorbankan peran kemanusiaan yang paling mendasar.
Dari Jakarta hingga Nusa Tenggara Barat, dari ruang kelas hingga ruang sidang, dari angka-angka teknik hingga pasal-pasal hukum, Sari Yuliati telah menempuh perjalanan panjang yang tidak sederhana. Ia tidak dibentuk oleh satu peristiwa besar, tetapi oleh akumulasi langkah kecil yang konsisten.
Di tengah dunia politik yang sering kali keras dan pragmatis, ia menghadirkan sesuatu yang berbeda: ketekunan yang sunyi, integritas yang tidak diumbar, dan keyakinan bahwa perempuan bukan hanya pelengkap, melainkan penggerak.
Dan mungkin, di situlah makna terpenting dari perjalanan Sari Yuliati—bahwa perubahan tidak selalu datang dengan gemuruh, tetapi bisa hadir perlahan, melalui mereka yang bekerja tanpa banyak kata, namun meninggalkan jejak yang tak mudah dihapus waktu (red)
Berita terkait
Anggia Erma Rini: Menenun Pengabdian dari...
Afdhal Alattas: Menenun Riset, Teknologi, dan...
Berita Terbaru
Bahlil Lahadalia: Musda Golkar Sulut Harus...
Bahlil Lahadalia: Musda Golkar Sulut Harus...
