Berita Senayan
Network

Soroti Krisis Layar Film Nasional, Novita Hardini : Distribusi Layar Harus Diperluas ke Daerah.

Redaksi
Laporan Redaksi
Jumat, 10 April 2026, 21:38:26 WIB
Soroti Krisis Layar Film Nasional, Novita Hardini : Distribusi Layar Harus Diperluas ke Daerah.
Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini,



JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, menyoroti serius krisis jumlah layar bioskop di Indonesia yang dinilai semakin menghambat pertumbuhan industri perfilman nasional. Ia menegaskan, persoalan ini sudah berada pada titik yang merugikan para pelaku industri kreatif, baik secara ekonomi maupun psikologis.

Dalam rapat kerja di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Novita mengungkapkan bahwa keterbatasan layar menyebabkan banyak film karya anak bangsa harus mengantre panjang untuk bisa tayang di bioskop. Bahkan, tidak sedikit film hanya mendapatkan jatah tayang yang sangat singkat.

“Antrean panjang pemutaran film ini sudah tidak manusiawi. Banyak film berkualitas harus menunggu lama, bahkan hanya tayang beberapa hari. Ini jelas merugikan produser yang sudah berinvestasi besar,” ujar Novita dalam keterangannya, Kamis (9/4/2026).

Menurutnya, kondisi ini menunjukkan adanya ketimpangan antara produktivitas film nasional yang terus meningkat dengan ketersediaan infrastruktur layar bioskop yang masih terbatas. Ia menilai, tanpa langkah konkret dari pemerintah, industri film Indonesia akan sulit berkembang secara optimal.

Selain itu, Novita juga menekankan pentingnya pemerataan distribusi layar hingga ke daerah-daerah. Ia menilai, saat ini akses menonton film masih terpusat di kota-kota besar, sehingga potensi pasar di daerah belum tergarap maksimal.

“Distribusi layar harus diperluas ke daerah. Jangan sampai industri film hanya berputar di kota besar, sementara masyarakat di daerah minim akses terhadap karya anak bangsa,” tegasnya.

Lebih jauh, ia mendorong pemerintah untuk segera mengambil langkah strategis, termasuk memberikan insentif bagi pembangunan bioskop baru serta memperbaiki regulasi distribusi film. Hal ini dinilai penting untuk menciptakan ekosistem perfilman yang sehat dan berkelanjutan.

Novita juga mengingatkan bahwa film bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari kekuatan ekonomi kreatif sekaligus identitas budaya bangsa yang harus didukung secara serius.

“Film adalah wajah bangsa. Kalau infrastrukturnya tidak kita benahi, kita hanya akan menjadi penonton di negeri sendiri,” pungkasnya (red)