Berita Senayan
Network

Soroti Lonjakan Harga Plastik, Dipo Nusantara : Momentum Kurangi Sampah Laut

Redaksi
Laporan Redaksi
Kamis, 09 April 2026, 11:30:04 WIB
Soroti Lonjakan Harga Plastik, Dipo Nusantara : Momentum Kurangi Sampah Laut
Anggota Komisi XII DPR RI, Dipo Nusantara



JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi PKB, Dipo Nusantara, menilai lonjakan harga plastik global akibat konflik di Timur Tengah harus dimanfaatkan sebagai momentum untuk mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai di Indonesia.

Menurut Dipo, kenaikan harga plastik hingga lebih dari 50 persen menjadi sinyal kuat bagi pemerintah dan masyarakat untuk mulai beralih ke pola konsumsi yang lebih ramah lingkungan.

“Lonjakan harga plastik ini seharusnya menjadi titik balik untuk mengurangi ketergantungan kita. Penggunaan plastik di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan,” ujarnya di Jakarta, Kamis (9/4/2026).

Ia mengungkapkan bahwa sampah laut Indonesia masih didominasi oleh material plastik yang sulit terurai dan berbahaya bagi ekosistem. Selain merusak lingkungan, plastik juga berisiko terhadap kesehatan manusia melalui kontaminasi mikroplastik dalam rantai makanan.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia menghasilkan sekitar 56,6 juta ton sampah per tahun, dengan hampir 10 juta ton atau 18 persen di antaranya berupa sampah plastik.

Dipo memperingatkan bahwa tanpa perubahan pola konsumsi, persoalan sampah plastik dapat menjadi bom waktu ekologis yang berdampak besar terhadap lingkungan dan keuangan negara.

“Kita harus jujur bahwa sampah plastik adalah ancaman serius. Plastik mencemari laut, membunuh biota, hingga menyumbat saluran air yang memicu banjir,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia mendorong pemerintah untuk memperkuat kebijakan pelarangan plastik sekali pakai secara nasional, serta memperluas program daur ulang.

Dipo juga menantang sektor industri untuk beralih ke kemasan ramah lingkungan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap limbah yang dihasilkan.

“Kenaikan harga ini harus dimanfaatkan untuk mendorong perubahan perilaku di tingkat industri dan masyarakat. Ini saatnya kita beralih ke pola konsumsi yang lebih berkelanjutan,” pungkasnya (red)