Berita Senayan
Network

Imas Aan: Ketergantungan Impor LPG Tinggi Ancam Stabilitas Energi Nasional

Redaksi
Laporan Redaksi
Senin, 06 April 2026, 13:49:37 WIB
Imas Aan: Ketergantungan Impor LPG Tinggi Ancam Stabilitas Energi Nasional
Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKB, Imas Aan Ubudiyah



JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKB, Imas Aan Ubudiyah, menyoroti tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang dinilai dapat mengancam stabilitas energi nasional di tengah gejolak global.

Menurut Imas, struktur pasokan LPG nasional yang masih didominasi impor membuat Indonesia berada dalam posisi rentan terhadap gangguan distribusi dan fluktuasi harga di pasar internasional.

“Ketergantungan impor LPG yang tinggi membuat posisi Indonesia sangat rentan. Jika terjadi gangguan pasokan global, dampaknya langsung dirasakan masyarakat,” ujar Imas Aan di Jakarta, Senin (6/4/2026).

Ia menjelaskan, dari total kebutuhan LPG nasional sekitar 8 juta ton per tahun, hanya sekitar 20 persen yang dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. Sementara sisanya, sekitar 80 persen, masih bergantung pada impor.

Kondisi tersebut, lanjut Imas, berpotensi menimbulkan risiko serius, terutama ketika terjadi ketegangan geopolitik yang dapat mengganggu jalur distribusi energi global.

“Hampir seluruh sumber energi dasar kelas menengah dan bawah tergantung pada LPG. Jadi ketersediaan stok LPG sangat fundamental,” katanya.

Ia menegaskan bahwa pemerintah perlu segera mengambil langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus memastikan ketersediaan pasokan tetap terjaga.

Selain itu, Imas juga mendorong penguatan pengawasan distribusi LPG di dalam negeri guna mencegah praktik penimbunan dan spekulasi harga.

“Langkah antisipasi jauh lebih penting daripada penanganan saat krisis sudah terjadi. Pemerintah harus memastikan stok aman dan harga tetap stabil agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah dapat lebih proaktif dalam menjaga ketahanan energi nasional, terutama dalam menghadapi dinamika global yang tidak menentu.

“Pemerintah jangan menunggu sampai terjadi kelangkaan baru bertindak,” pungkas Imas (red)