Berita Senayan
Network

Chusnunia Sebut Dupe Culture Cerminkan Konsumen Lebih Rasional dan Selektif

Redaksi
Laporan Redaksi
Senin, 30 Maret 2026, 16:27:05 WIB
Chusnunia Sebut Dupe Culture Cerminkan Konsumen Lebih Rasional dan Selektif
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Chusnunia



JAKARTA, BERITA SENAYAN – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Chusnunia, menilai fenomena dupe culture di kalangan generasi muda Indonesia mencerminkan perubahan pola perilaku konsumen yang semakin rasional dan selektif dalam menentukan pilihan produk.

Menurutnya, tren membeli produk alternatif dengan fungsi serupa namun harga lebih terjangkau bukan sekadar gaya hidup, melainkan bentuk adaptasi konsumen terhadap kondisi ekonomi dan arus informasi digital yang semakin terbuka.

“Fenomena membeli barang dupe kini justru dianggap pintar daripada sekadar memaksakan diri membeli barang branded, mencerminkan pola pikir konsumen yang lebih selektif pada nilai fungsi,” ujar Chusnunia.

Ia menjelaskan, perkembangan media sosial turut mempercepat penyebaran tren tersebut, terutama di kalangan Gen Z dan milenial yang cenderung mengutamakan efisiensi tanpa mengabaikan aspek gaya.

Namun demikian, Chusnunia mengingatkan pentingnya pemahaman publik dalam membedakan antara produk dupe dengan barang tiruan ilegal. Ia menekankan bahwa produk dupe yang tidak menggunakan merek asli masih berada dalam koridor kreatif, selama tidak melanggar hak kekayaan intelektual.

“Penting untuk kita membedakan antara barang tiruan dan barang KW, produk-produk dupe sejatinya tidak menggunakan logo atau branding merek aslinya, meski demikian kita lebih mendorong ke arah paradigma designer inspired,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menilai fenomena ini dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran industri, sebagaimana yang pernah dilakukan sejumlah negara dalam membangun kekuatan industrinya.

“Dalam dunia bisnis, praktik amati, tiru, modifikasi lazim dilakukan sebagai bentuk pembelajaran industri. Selama proses tersebut menghasilkan inovasi baru, bukan sekadar plagiasi,” tegasnya.

Chusnunia menambahkan, perubahan pola konsumsi ini juga berpotensi mendorong pelaku usaha untuk lebih inovatif dalam menghadirkan produk yang berkualitas dengan harga kompetitif.

“Budaya imitasi di kalangan Gen Z kita dapat mendorong kreativitas brand lokal untuk berkreativitas dan tumbuh menjadi brand global,” tambahnya.

Ia pun berharap fenomena ini dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat daya saing industri nasional, seiring meningkatnya kesadaran konsumen terhadap nilai dan fungsi produk.

“Bila dupe culture ini merangsang tumbuhnya brand-brand lokal, kita yakin hal tersebut juga akan berdampak pada pertumbuhan industri nasional untuk memproduksi bahan baku yang murah,” pungkasnya (red)