Paradoks Khamenei: Imam Tertinggi Revolusi Penggemar Sastra
Oleh : Armand Dhani*
JAKARTA, BERITA SENAYAN – Jean Valjean berdiri dengan gemetar ketika pintu kayu itu berderet tertutup mengurungnya dalam sel kecil di Prancis. Sebelumnya, karena tak tega melihat anak-anak kelaparan, ia mencuri roti. Pengadilan memutuskan lima tahun penjara yang bertambah menjadi sembilan belas tahun kerja paksa karena usaha melarikan diri dan melawan petugas penjara. Melihat perilakunya yang ganas, Jean Valjean dikirim kerja paksa.
Sunyi di dermaga Toulon pecah karena gesekan rantai membelit pergelangan kakinya; mata para sipir menatap Jean Valjean bukan sebagai manusia, tetapi sebagai buruh murah dengan nomor induk. Di dalam sel yang lembap dan sempit, sesekali siksaan karena melawan, Jean menghabiskan malam-malam muram dalam kurungan.
Lebih dari satu abad kemudian, di negeri lain, seorang ulama berumur 31 tahun digiring ke ruang interogasi oleh SAVAK. Ali Khamenei ditangkap enam kali dalam rentang 60–70an. Ia bukan sosok karismatik penting seperti Ruhullah Khomeini, tapi kotbah-kotbahnya yang revolusioner membuatnya dicurigai Rezim Shah. Ia dikurung berbulan-bulan dalam ruangan gelap berukuran dua kali dua meter. Cahaya nyaris tak masuk; waktu kehilangan arti. Tubuhnya disiksa, suaranya dibungkam, dan kesunyian dipakai sebagai alat penghukuman.
Dalam otobiografinya, Cell №14, Khamenei menuturkan bagaimana petugas interogasi SAVAK selalu mulai siksaan dengan ejekan. “Ia mulai menirukan suara saya dengan nada mengejek, lalu tiba-tiba pukulan pertama mendarat di wajah saya,” tulisnya. Siksaan itu kerap berujung dengan cambukan dan kurungan. “Saya terhuyung ke depan dan terjatuh di sebuah ranjang di sudut ruangan. Saya mencoba bangkit, tetapi salah seorang pria itu berteriak, “Tetap di tempatmu! Kau sudah berada di posisi yang tepat,”” tulisnya
***
Ali Hosseini Khamenei lahir pada 19 April 1939 di Mashhad. Ayahnya, Javad Khamenei, seorang alim dan mujtahid kelahiran Najaf, berasal dari etnis Azer. Sementara ibunya, Khadijeh Mirdamadi, perempuan Persia dari Yazd. Ketawadhu’an Khamenei lahir dari tradisi panjang keluarga ulama syiah, berakar garis leluhurnya dirunut hingga Sayyid Hossein Tafreshi, yang diyakini bersambung hingga Imam Ali al-Sajjad.
“Saya berasal dari keluarga yang sepenuhnya religius. Ibu saya adalah putri seorang ulama dan saudara-saudara lelakinya juga ulama… Ibu saya membaca Al-Quran, dan ia membacanya dengan merdu dan indah. Kami berkumpul mengelilinginya dan ia membacakan ayat-ayat yang sesuai dengan suatu peristiwa, tentang kehidupan para nabi.” katanya.
Ia mengenang masa kecil yang religius sekaligus miskin, rumah sederhana, pakaian yang dijahit ulang ibunya dari baju bekas sang ayah. Khamenei mengaku bahwa ayahnya tidak mudah melepaskan sebuah barang. Ia ingat sang ayah memiliki sebuah jubah yang dipakainya selama sekitar 40 tahun. Pakaian itu baru diwariskan setelah tak cukup lagi atau sudah demikian buruk bahannya. “Ada begitu banyak rasa kekurangan dalam masa kecil kami,” katanya.
Barangkali cuma iman dan islam yang membuat Khamenei memelihara harapan dengan gigi terkatup. Ia belajar Al-Qur’an sejak berusia empat tahun dan meneruskan pendidikan hingga dibimbing ulama terkemuka seperti Sheikh Hashem Qazvini dan Ayatollah Milani.
Sanad ilmunya berkembang ketika pada akhir 1950-an pergit ke Najaf lantas ke kota Qom. Di sana Khamenei mengikuti madrasah ilmu Seyyed Hossein Borujerdi serta Ruhollah Khomeini. Namun, seperti banyak ulama muda sezamannya, ia lebih tertarik pada pergolakan politik ketimbang semata kajian fiqh.
Seperti kebanyakan pejabat di Iran, Khamenei tidak mengambil satu peran belaka. Di hadapan musuh Iran, ia adalah prajurit yang siap bertempur dan mengatur strategi. Sebagai intelektual ia menulis buku terkait kajian-kajian islam, dan sebagai ulama ia juga rutin memimpin sholat Jum’at di masjid Tehran. Ini yang kemudian dimanfaatkan musuh-musuhnya untuk melakukan upaya pembunuhan.
Sabtu, 27 Juni 1981, Ali Khamenei datang ke Masjid Aboozar setelah kembali dari garis depan perang. Setelah shalat, ia memberikan tausiyah, memberikan jawaban atas pertanyaan umat. Semua berjalan seperti biasa hingga seorang pemuda meletakkan sebuah tape recorder di meja di depannya. Alat itu dibiarkan begitu saja, hingga beberapa saat kemudian terdengar bunyi mendesis. Lalu ledakan memecah ruangan.
Bom yang disembunyikan dalam tape recorder itu meledak tepat di sisi kanan Khamenei. Di dinding bagian dalam perangkat tersebut tertulis pesan: “Hadiah dari Kelompok Furqan untuk Republik Islam.” Serangan itu dikaitkan dengan Mujahedin-e Khalq, kelompok kiri yang saat itu memusuhi keras otoritas pemerintahan baru Iran.
Ada alasan mengapa Khamenei selalu memberikan salam dengan tangan kiri dan suaranya terdengar serak ketika berkhotbah. Ia memang selamat dari upaya pembunuhan, namun kudu membayarnya dengan harga mahal. Setelah menjalani perawatan berbulan-bulan; paru-paru dan pita suaranya rusak parah. Lengan kanannya lumpuh permanen.
Barangkali ini yang membuat Khamenei muda kemudian menjadikan ideologi komunis-marxis sebagai musuh. Meski sebelumnya saat muda ia belajar dan bersinggungan dengan kelompok sosialis marxis saat tinggal di Mashhad. Tuhan memaafkan, tapi Khamenei selalu mengingat segala hal yang terjadi dan dilakukan padanya.
Sebagai ulama, Khamenei sangat zuhud, menolak segala sesuatu yang duniawi, sebagai politisi, Rahbar, ia sangat pragmatik serupa mentornya Ruhullah Khomeini. Ia merangkul semua faksi di Iran tapi tak membuat salah satu dari mereka lebih menonjol dari yang lain. Menjadikan politik sebagai alat stabilitas daripada kekuasaan. Ia bisa mencopot siapapun, termasuk protege-nya, Ahmadinejad, saat berselisih.
Pragmatisme serupa juga bisa dilihat dari bagaimana ia membaca masalah umat melalui fatwa, keputusan yang mungkin sangat kontroversial, tapi di sisi lain juga progresif dalam perspektif sosial politik.
Misalnya, Khamenei secara terbuka menyebut homoseksualitas sebagai “degradasi moral” yang berkembang di Barat. Sikap terbuka yang sejalan dengan garis konservatif Republik Islam Iran. Namun pada saat yang sama, ia mendukung fatwa Ruhullah Khomeini tahun 1985 yang mengijinkan operasi pergantian kelamin bagi penderita disforia gender.
Sikap semacam ini tak bisa dibayangkan di negara Muslim manapun, bahkan di Indonesia, diskusi tentang isu operasi pergantian kelamin dianggap tabu. Sementara di Iran, prosedur medisnya dilegalkan dalam kerangka fiqh yang ketat dan diawasi secara profesional.
Di satu sisi ada penolakan teologis terhadap orientasi seksual; di sisi lain ada pengakuan medis-religius terhadap identitas gender tertentu. Saat negara-negara barat dengan politik identitas pronounce masih berkutat dengan isu trans, Iran mengakomodirnya sebagai isu medis. Konservatisme Iran adalah wajah asing yang susah dipahami dunia.
Sikap ini tidak lahir karena tekanan politically correct atau trend woke semata. Jauh sebelumnya, pada 1999, Ali Khamenei mengeluarkan fatwa yang membolehkan penggunaan pihak ketiga, donor sperma, ovum, atau ibu pengganti, dalam terapi kesuburan. Ini adalah respon dari umat yang bertanya apa solusi halal memiliki anak jika mandul.
Sebuah terobosan berani dan berbeda dari fatwa Assisted Reproductive Technology (ART) yang dikeluarkan Universitas Al-Azhar pada 1980an. Fatwa Al Azhar hanya membolehkan teknologi seperti bayi tabung selama tidak melibatkan donor pihak ketiga.
Kemajuan-kemajuan dalam fatwa yang merespon isu mutakhir seolah tertutup dengan berbagai kontroversi. Padahal beberapa fatwa yang dibuat merupakan produk turunan langsung dari pengetahuan yang berkembang. Ketika riset terkait stem cell menemukan potensi donor organ untuk penyakit serius, Khamenei memberikan izin dan fatwa bahwa riset tersebut ditujukan demi kebutuhan penyelamatan manusia medis dan bukan untuk membuat manusia baru.
Dalam isu sektarian Khamenei juga punya peran sebagai sosok yang mendorong persatuan. Ia merupakan salah seorang pendandatangan perjanjian Amman. Pada 2010 ia mengeluarkan fatwa yang melarang penghinaan terhadap para Sahabat Nabi Muhammad serta istri-istri Nabi setelah ulama Kuwait, Yasser al-Habib, menghina dan merayakan kematian Aisyah.
Fatwa itu dipuji sebagai aksi langsung pimpinan tertinggi mazhab Syiah, untuk meredakan perbedaan hukum, sosial, dan politik antara komunitas Sunni dan Syiah yang sering digunakan sebagai bahan bakar kekerasan sektarian.
“Menghina istri-istri suci Nabi harus dihindari. Istri-istri Nabi semuanya terhormat; siapa pun yang menghina salah satu dari mereka berarti telah menghina Nabi. Saya dengan tegas menyatakan bahwa hal itu adalah tindakan ofensif,” tulis Khamenei.
Pada skala global pendekatan religius penting Khamenei juga bisa dilihat pada keputusan mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa produksi, penimbunan, dan penggunaan senjata nuklir dilarang dalam Islam. Fatwa tersebut dikutip dalam pernyataan resmi pemerintah Iran pada pertemuan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) di Wina pada Agustus 2005.
Fatwa haram senjata nuklir merupakan respon langsung terhadap kekhawatiran kerusakan lingkungan. “Senjata pemusnah massal merupakan ancaman bagi kemanusiaan dan hukumnya haram,” tulisnya.
**
Sebagai Supreme Leader sosok tunggal yang berdiri di atas semua orang di Iran, ia merupakan sosok yang banyak dikritik dalam isu HAM. Selama beberapa tahun terakhir kekerasan terhadap perempuan menjadi isu sentral dan sejak 1980 an ketika hijab menjadi wajib. Persoalan ini makin memanas ketika 16 September 2022 Mahsa Amini meninggal karena dugaan penyiksaan oleh polisi moral.
Di media sosial respon publik yang geram kemudian membandingkan foto-foto Iran sebelum revolusi: perempuan berbikini di pantai Laut Kaspia, rok mini di jalan Teheran, rambut tergerai tanpa penutup di bawah Shah Iran sebagai simbol kemajuan. Gambar-gambar itu kerap dipakai sebagai bukti zaman yang “lebih merdeka bagi perempuan Iran saat ini”.
Meski ditekan dan dihujat karena melakukan pelanggaran HAM terhadap perempuan, Ayatollah Ali Khamenei tidak mengendurkan aturannya. Di bawah pemerintah Islam Iran kebebasan berpakaian tidak selalu identik dengan kemajuan dan perkembangan. Jika dibandingkan dengan Rezim Shah Iran yang kala itu gemar menikah, merendahkan kemampuan nalar perempuan (dalam wawancara menyebut kemampuan kognitif perempuan tak setara laki-laki), jelas jauh berbeda.
Perempuan di bawah Shah Iran tak memiliki akses pendidikan yang merata, anjuran untuk mengambil pendidikan sangat rendah; akses ke universitas terbatas dan tak merata. Hanya kelompok elit dan mereka yang tinggal di kota bisa memperoleh akses terhadap pendidikan tinggi. Modernitas hadir sebagai hiasan kota, tetapi belum sepenuhnya diakses oleh semua orang.
Di bawah Khamenei, aturan ketat tentang hijab berbanding terbalik dengan keleluasan perempuan untuk belajar terlepas status kelas sosialnya. Dalam kampus dan laboratorium, statistik menunjukan perubahan serius. Dalam pidato maupun khotbah, ia mengajurkan generasi muda untuk belajar, menggapai sains modern untuk kepentingan revolusi islam.
Perempuan Iran kini mencakup lebih dari 60 persen mahasiswa strata satu dan sekitar 70 persen lulusan STEM. Mereka menonjol di bidang kedokteran, matematika, teknik, hingga nanoteknologi. Lebih dari 130 peneliti perempuan Iran masuk dalam jajaran satu persen ilmuwan paling banyak dirujuk di dunia.
Ini tentu berbeda dengan sikap negara-negara dengan mayoritas penduduk muslim lainnya. Di Arab Saudi, sebelum reformasi satu dekade terakhir, ruang gerak perempuan dibatasi ketat; di Afghanistan di bawah Taliban, sekolah-sekolah untuk anak perempuan ditutup, kampus-kampus dikosongkan dari mahasiswi. Di Iran, perempuan diijinkan belajar hingga jadi ilmuwan dengan reputasi global.
Solidaritas dan kemanusiaan Khamenei memang ganjil. Ia dituduh banyak memerintahkan dan tutup mata terhadap kekerasan warga Iran. Mulai dari penyiksaan, penahanan, hingga pembunuhan terhadap mereka yang melawan pemerintahan.
Sikap serupa juga ditunjukan pada 2002, Khamenei turun tangan menentang hukuman mati yang dijatuhkan kepada Hashem Aghajari. Hashem dituntut hukum mati karena berpendapat bahwa umat Islam seharusnya menafsirkan kembali ajaran agama secara mandiri, bukan sekadar mengikuti para pemimpin secara membabi buta.
Khamenei memerintahkan peninjauan ulang atas putusan terhadap Aghajari, yang kemudian diubah menjadi hukuman penjara.
Sikapnya terhadap Amerika Serikat juga bisa menjadi contoh dualisme sikap. Slogan-slogan kematian untuk Amerika tidak mencegahnya bersimpati kepada korban serangan 11 September 200. Khamenei mengutuk pembunuhan massal itu sebagai tindakan “katastropik” yang harus dikecam di mana pun terjadi, oleh siapapun pelakunya.
**
Khamenei membuka pidatonya pada 1988 dengan pujian terhadap bahasa Persia. Pidato berjudul, The Splendor of the Persian Language and the Need to Protect It, memuat deskripsi yang menyebut Persia sebagai “bahasa Islam revolusioner yang sejati.” Ia membandingkannya dengan Arab, memuji kelenturan dan daya ungkapnya, bahkan meragukan apakah puisi Hafez, penyair mahsyur Persia, bisa sepenuhnya diterjemahkan.
Kecintaan Khamenei terhadap sastra memang meninggalkan jejak sejak ia belajar di Mashhad. Di kota itu ia menulis puisi dengan nama samaran “Amin”, menghadiri pertemuan sastra di, berdiskusi dengan kelompok Marxis, dan mengkritik sajak para penyair.
Di sela belajar agama, membangun revolusi islam, dan di bawah tekanan Shah Iran, Khamenei menemukan ruang aman dalam sastra. Ia dikenal sebagai sosok yang mendorong penciptaan kata baru dalam bahasa Persia untuk menggantikan serapan asing jika tak ditemukan padannya.
“Puisi adalah seni yang berpengaruh. Puisi memiliki sejumlah kualitas yang tidak dimiliki oleh bentuk-bentuk seni lainnya. Memang, beberapa bentuk seni juga sangat berpengaruh dalam arti dan cara yang berbeda – misalnya sinema, teater, dan seni-seni sejenis – namun puisi berpengaruh dengan cara yang lain,” tulis Khamenei.
Dalam banyak kesempatan Khamenei secara terbuka memuji sastra, namun di sisi lain ia juga melakukan sensor dan pelarangan buku. Bukan tanpa sebab, karena sebagai penikmat sastra, ia juga pemimpin sebuah bangsa. Puisi, katanya, seharusnya membentuk arah dan orientas yang mampu membangun wacana dan arah pemikiran tentang persoalan-persoalan penting bangsa.
Khamanei mengagumi Les Misérables sebagai “mukjizat dunia novel”, buku tentang seseorang yang diinjak ketidakadilan, bangkit dengan keterpurukan, serta menemukan cinta kasih dalam prosesnya. Ia merekomendasikan buku ini, bersama The Grapes of Wrath dan Uncle Tom’s Cabin sebagai cermin kritik sosial.
***
28 Februari 2026, Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, meninggal dunia pada usia 86 tahun dalam serangan udara berskala besar. Serangan ini dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel. Seorang faqih yang membaca Victor Hugo, mencintai bahasa Farsi, bersalaman dengan kelompok sosialis marxis. Seorang revolusioner yang memuji sastra, mendorong kemajuan ilmu pengetahuan sembari berkebun dengan gelas siram plastik.
Seorang pemimpin negara yang percaya bahwa puisi dapat menggerakkan sejarah, memajukan sebuah bangsa, dan dengan kezuhudan paripurna menolak memperkaya diri. Seseorang yang kematiannya dirayakan, juga diratapi.
Seperti puisi Hafez.
Jika darahku beraroma rindu,
janganlah terperanjat –
darahku perih kijang kesturi,
yang teteskan wangi lukanya sendiri (RED).
Berita terkait
Obituari John Tobing Pencipta Lagu Darah...
Bahlil Orang Pande : Perspektif Tasawuf
Setahun ASR–Hugua: Membaca Arah Tata Kelola...
Runtuhnya Benteng Moral HMI : 79...
Membaca Sulawesi Tenggara Lewat Data: Perbandingan...
Board of Peace: Perdamaian Tanpa Keadilan
Berita Terbaru
Menutup Rangkaian Ramadhan, FOSTA FPG DPR...
Paradoks Khamenei: Imam Tertinggi Revolusi Penggemar...
