Berita Senayan
Network

Rivqy Abdul Halim Minta Pemerintah Perluas Pasar Ekspor Baru

Redaksi
Laporan Redaksi
Jumat, 27 Februari 2026, 12:25:21 WIB
Rivqy Abdul Halim Minta Pemerintah Perluas Pasar Ekspor Baru
Anggota Komisi VI DPR RI, Rivqy Abdul Halim atau Gus Rivqy,



JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi VI DPR RI, Rivqy Abdul Halim, menekankan pentingnya diversifikasi pasar ekspor sebagai respons strategis atas kebijakan bea masuk sementara dari Amerika Serikat terhadap produk sel dan panel surya asal Indonesia.

Menurut Rivqy, ketergantungan pada satu pasar membuat kinerja ekspor nasional rentan terhadap kebijakan sepihak negara mitra dagang. Karena itu, pemerintah didorong segera membuka tujuan ekspor alternatif guna menjaga keberlanjutan industri energi surya nasional.

“Indonesia tidak boleh menggantungkan nasib ekspor pada satu negara. Kita punya kapasitas produksi dan daya saing untuk masuk ke pasar lain,” ujarnya di Jakarta, Jumat (27/2/2026).

Ia menilai kawasan Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, hingga Eropa memiliki potensi besar untuk menyerap produk sel dan panel surya Indonesia. Untuk itu, kementerian terkait diminta mengintensifkan diplomasi dagang serta mempercepat perjanjian akses pasar dengan mitra-mitra baru.

Rivqy menegaskan, penguatan pasar non-Amerika Serikat juga akan memperkuat posisi tawar Indonesia dalam perundingan dagang global. Dengan portofolio pasar yang lebih beragam, tekanan kebijakan dari satu negara tidak akan berdampak signifikan terhadap stabilitas ekspor nasional.

Komisi VI DPR RI, lanjutnya, akan mengawal kebijakan perdagangan agar berpihak pada kepentingan industri dalam negeri, termasuk memastikan keberlanjutan sektor energi baru dan terbarukan sebagai produk strategis nasional.

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan Amerika Serikat menetapkan bea masuk sementara atas impor produk sel dan panel surya dari Indonesia, India, dan Laos. Besaran bea masuk tersebut ditetapkan setara dengan tingkat subsidi umum yang dinilai diberikan oleh masing-masing negara.

Mengutip Reuters, tingkat subsidi umum yang dikenakan masing-masing negara mencapai 125,87% untuk India, 104,38% untuk Indonesia, dan 80,67% untuk Laos (red).


Berita terkait

Neng Eem Marhamah Zulfa Soroti Bahaya Komplikasi Wabah Campak
Neng Eem Marhamah Zulfa Soroti Bahaya...
27 Februari 2026, 13:50:28
Sikapi Insiden di UIN Sultan Syarif Kasim Riau, Habib Syarief Muhammad: SOP Keamanan Kampus Wajib Diperketat
Sikapi Insiden di UIN Sultan Syarif...
27 Februari 2026, 12:36:36
Pembacokan di UIN Suska Riau, Hetifah Sjaifudian: Kekerasan di Kampus Tak Bisa Ditoleransi
Pembacokan di UIN Suska Riau, Hetifah...
27 Februari 2026, 11:30:00