SIAK, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Karmila Sari, mendesak investigasi menyeluruh dan transparan atas insiden ambruknya lantai dua Bangunan Tangsi Belanda di Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Peristiwa yang terjadi pada Sabtu (31/1/2026) itu mengakibatkan sepuluh orang luka-luka, terdiri dari sembilan siswa Sekolah Dasar dan satu orang guru yang tengah mengikuti kegiatan study tour.
Karmila menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden tersebut, terlebih bangunan Tangsi Belanda merupakan cagar budaya yang telah direvitalisasi oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) pada 2018 dengan anggaran sekitar Rp5,2 miliar. Dugaan sementara menyebutkan keruntuhan dipicu kerapuhan struktur kayu yang dimakan rayap.
“Tragedi ini adalah tamparan keras bagi kita semua. Keselamatan pengunjung, terutama anak-anak yang datang untuk belajar sejarah, seharusnya menjadi prioritas utama. Ini menunjukkan adanya kegagalan sistem dalam pemeliharaan dan pengawasan pascarevitalisasi cagar budaya,” tegas Karmila Sari dalam pernyataan tertulisnya, Jum’at (6/2/2026).
Sebagai anggota Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan dan kebudayaan, Karmila mendesak pemerintah segera membentuk tim investigasi independen yang melibatkan Kementerian Kebudayaan, Kementerian PUPR, serta pemerintah daerah. Investigasi tersebut, kata dia, harus mencakup kualitas revitalisasi, sistem pemeliharaan rutin, serta pengaturan kapasitas pengunjung.
Selain investigasi, Karmila juga menekankan pentingnya perbaikan darurat dan menyeluruh dengan standar keamanan tertinggi tanpa mengabaikan nilai pelestarian cagar budaya. Ia meminta proses perbaikan melibatkan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) dan diawasi secara ketat.
Lebih jauh, Karmila menilai insiden ini harus menjadi momentum untuk melakukan audit nasional terhadap sistem pemeliharaan cagar budaya di seluruh Indonesia. Menurutnya, perlu protokol baku terkait perawatan berkala, monitoring struktur bangunan, dan pembatasan jumlah pengunjung di situs-situs bersejarah.
“Jangan sampai anggaran besar untuk revitalisasi cagar budaya menjadi sia-sia karena tidak diikuti perawatan yang konsisten. Negara harus hadir secara serius dalam melindungi warisan sejarah sekaligus menjamin keselamatan masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, perbaikan Tangsi Belanda juga penting untuk memulihkan fungsi edukasi dan ekonomi kawasan tersebut sebagai destinasi wisata sejarah yang berdampak pada perekonomian lokal.
“Kami mendorong sinergi kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, dan komunitas budaya. Jangan sampai tragedi serupa terulang. Ini harus menjadi titik balik pengelolaan cagar budaya yang lebih bertanggung jawab, aman, dan berkelanjutan,” pungkas Karmila Sari (red)

Berita terkait