Berita Senayan
Network

Kaisar Abu Hanifah: Bonus Demografi Terancam Tanpa Manufaktur

Redaksi
Laporan Redaksi
Selasa, 03 Februari 2026, 14:16:29 WIB
Kaisar Abu Hanifah: Bonus Demografi Terancam Tanpa Manufaktur
Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Kaisar Abu Hanifah,



JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Kaisar Abu Hanifah, mengingatkan pemerintah bahwa bonus demografi Indonesia berpotensi berubah menjadi beban serius jika sektor industri manufaktur tidak segera diperkuat. Ia menilai lemahnya sektor padat karya akan berdampak langsung pada meningkatnya pengangguran, terutama di kalangan usia muda.

Kaisar menyoroti data pengangguran muda Indonesia yang telah mencapai 17 persen, tertinggi di Asia. Menurutnya, kondisi ini merupakan sinyal bahaya yang tidak boleh direspons secara biasa-biasa saja.

“Tanpa industri manufaktur yang kuat, bonus demografi kita justru bisa menjadi bumerang. Ini alarm keras bagi pemerintah untuk segera bertindak,” ujar Kaisar di Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Ia menjelaskan, meskipun angka pengangguran nasional secara statistik menunjukkan penurunan, penyerapan tenaga kerja justru lebih banyak terjadi di sektor informal. Sementara itu, sektor formal produktif seperti manufaktur dinilai stagnan dan belum mampu menjadi tulang punggung penciptaan lapangan kerja.

Kaisar menegaskan bahwa industri manufaktur memiliki peran strategis dalam menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, meningkatkan produktivitas nasional, serta memperkuat daya saing ekspor Indonesia. Tanpa intervensi kebijakan yang kuat, ia khawatir Indonesia akan semakin sulit keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah.

“Manufaktur adalah mesin pertumbuhan ekonomi. Jika sektor ini lemah, maka daya beli masyarakat ikut tertekan dan ketimpangan sosial berpotensi meningkat,” tegasnya.

Legislator PKB tersebut juga meminta pemerintah menghadirkan kebijakan konkret berupa insentif fiskal, kemudahan perizinan, perlindungan industri dalam negeri, serta jaminan ketersediaan energi dengan harga terjangkau bagi pelaku industri.

Menurut Kaisar, sektor manufaktur tidak boleh dibiarkan berjuang sendiri menghadapi tekanan global dan perlambatan ekonomi dunia. Negara harus hadir sebagai pelindung sekaligus penggerak utama.

“Penguatan manufaktur harus menjadi agenda prioritas nasional. Ini bukan hanya soal industri, tetapi soal masa depan generasi muda dan stabilitas ekonomi bangsa,” pungkas Kaisar (red)