Kasus Dosen UIM Ludahi Kasir, DPR Soroti Etika Akademik
Senin, 29 Desember 2025, 12:34:46 WIB
JAKARTA, BERITA SENAYAN – Wakil Ketua Komisi X DPR RI Fraksi PKB, Lalu Hadrian Irfani, menyoroti serius aspek etika akademik dalam kasus dosen Universitas Islam Makassar (UIM), Amal Said, yang meludahi seorang kasir swalayan. Menurutnya, peristiwa tersebut mencerminkan kegagalan menjaga adab dan integritas sebagai insan pendidik.
Lalu Hadrian menilai tindakan tersebut bukan sekadar persoalan individu, melainkan juga menyangkut citra dan tanggung jawab moral dunia pendidikan tinggi di hadapan publik.
“Dosen bukan hanya pengajar mata kuliah, tetapi juga simbol nilai, etika, dan keteladanan. Ketika seorang dosen bertindak tidak beradab di ruang publik, maka yang tercoreng bukan hanya dirinya, tetapi juga martabat profesi pendidik,” ujarnya, Senin (29/11/2025).
Ia menegaskan bahwa perilaku meludah kepada pekerja layanan merupakan bentuk kekerasan simbolik yang tidak bisa ditoleransi dalam masyarakat yang menjunjung nilai kemanusiaan dan saling menghormati.
Menurut legislator asal Dapil NTB II tersebut, dalih emosi tidak dapat dijadikan alasan pembenar. Justru, pengendalian diri merupakan salah satu nilai fundamental yang seharusnya melekat pada seorang dosen.
“Integritas akademik tidak hanya diukur dari kemampuan intelektual, tetapi juga dari sikap dan perilaku sehari-hari. Pengendalian diri adalah bagian penting dari itu,” tegasnya.
Lalu Hadrian Irfani juga menekankan pentingnya penegakan aturan secara konsisten. Mengingat yang bersangkutan berstatus sebagai aparatur sipil negara (ASN), ia mendorong agar perguruan tinggi dan instansi terkait menjatuhkan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.
“Sanksi harus ditegakkan secara proporsional, baik melalui mekanisme disiplin ASN maupun sanksi etik di lingkungan kampus. Ini penting untuk menjaga marwah dunia akademik,” katanya.
Ia menambahkan, langkah tegas tersebut diharapkan menjadi pengingat bahwa dunia pendidikan tinggi menuntut sikap beradab, empati, dan penghormatan terhadap sesama, terutama di ruang publik.
“Kasus ini harus menjadi refleksi bersama bahwa intelektualitas tanpa etika hanya akan melahirkan arogansi,” pungkasnya (red)
Berita terkait
Hetifah Sjaifudian: Anggaran Khusus Bencana Wajib...
Hetifah Sjaifudian: Percepatan Pemulihan Infrastruktur Sekolah...
Eko Wahyudi: SPHP Penting Tekan Inflasi...
Fauzi Amro: APBN Jangan Tambal Jalan...
Christiany Eugenia Paruntu: Bawang Ilegal Berpenyakit...
Herman Khaeron: Pilkada DPRD Efisien Jaga...
Berita Terbaru
Menopang Ekonomi Indonesia di 2026 :...
Hetifah Sjaifudian: Anggaran Khusus Bencana Wajib...
