Ini Pidato Lengkap Bahlil Lahadalia Dalam Rapimnas Partai Golkar
Selasa, 23 Desember 2025, 13:17:09 WIB
JAKARTA, BERITA SENAYAN – Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan.
Yang saya hormati Ketua Dewan Pembina Partai Golkar, sahabat saya Bapak Agus Kumiwang Kartasasmita. Terima kasih Pak Agus. Dengan Pak Sekretaris Pak Lodewijk yang sudah hadir. Paten betul Ketua sama Sekretaris ini.
Yang saya hormati Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar yang diwakili oleh Bang Hafiz Zawawi. Pak Ketuanya lagi liburan, jadi salam saja untuk Bapak Ibu semua.
Yang saya hormati Ketua Dewan Etik Partai Golkar yang diwakili oleh Bang Andi Matalata.
Yang saya hormati Ketua Mahkamah Partai, Pak Fredi Latumahina. Bahaya kita pun bisa dihakimi oleh Pak Fredi. Yang saya hormati seluruh senior-senior yang sempat hadir. Pak Agung Laksono, memang luar biasa. Kita berikan aplaus dulu untuk Pak Agung. Ada Kakanda Zainuddin Amali. Saya takut sekali kalau Pak Agung sama Kakanda Zainuddin Amali sudah duduk berdekatan begini. Ini berdampak sistemik masif danterstruktur. Tapi gak apa-apa, saya sering bercanda sama Pak Agung.
Kalau di HIPMI itu, kalau ada mantan-mantan ketua umum HIPMI ketemu. Itu kalau tidak ada lawan di luar, pas di dalam baku hajar. Itu kelakuan HIPMI itu biasanya.
Yang saya hormati seluruh fungsionaris DPP Partai Golkar. Ada Sekjen, Bendahara umum, dan wakil-wakil ketua umum. Semua yang mohon maaf saya tidak sebut satu persatu.
Yang saya hormati, saya banggakan seluruh Ketua-ketua DPD I Partai Golkar yang sudah hadir. Kita berikan aplause kepada teman-teman Ketua DPD. Yang saya hormati, mohon maaf ini kelupaan, Sekjen tulisannya tidak teratur. Ketua-ketua organisasi yang mendirikan dan didirikan. Ada Soksi, Kosgoro, MKGR. Yang punya hak partai ini mereka . Organisasi Sayap, ada KPPG, AMPG, AMPI, Hasta Karya dan semuanya.
Yang saya hormati anggota Fraksi Partai Golkar yang sempat hadir.
Yang saya muliakan. Bapak, Ibu, semua undangan, yang mohon maaf saya tidak sebut satu persatu.
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kita ke Allah subhanahu wa ta’ala. Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan rahmat kasih sayang-Nya, pada hari ini kita dapat berkumpul di tempat ini dalam rangka mengikuti kegiatan Rapimnas pertama sebagai bagian daripada perintah Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga dan mekanisme tata kerja organisasi kita yang namanya Partai Golkar.
Bapak, Ibu semua, rapimnas pertama kita lakukan bertepatan dengan tinggal lima hari Natal. Izinkan saya untuk mengawali ini dengan menyampaikan Selamat Natal kepada saudara-saudara saya, yang beragama Kristen yang merayakan. Semoga damai selalu menyertai kita semua. Semoga Tuhan berkati. Karena saya meyakini kedamaian itulah yang mengantarkan untuk kita berpikir lebih bijak, lebih cerdas dan betul-betul sebagai bentuk pengabdian kepada bangsa dan negara.
Bapak, Ibu, semua yang saya hormati. Izinkan saya, izinkan saya untuk kesekian kalinya. Oh, Bang Ruli juga ada, Bang Ruli dan Satkar ulama saya mohon maaf. Abang-abang semua izinkan saya untuk kesekian kalinya. Untuk mengingatkan kita dan untuk menekankan kembali terhadap proses sejarah lahirnya Partai Golkar. Ini penting sekali supaya kita tidak keluar dari pada khittah perjuangan. Supaya kita tidak keluar dari koridor-koridor yang telah menjadi tujuan dan cita-cita mulia daripada kehadiran dan lahirnya Partai Golkar. Semua sudah kita tahu bahwa Partai Golkar lahir pada 20 Oktober 1964.
Dilahirkan oleh Sekber dan Sekber melahirkan Kino-Kino. Tapi sebelum Sekber itu lahir, ada 97 organisasi lain yang mendirikan Sekber itu. 97 itu ada TNI-Polri, ada Birokrasi, ada Nelayan, ada Wartawan, ada kelompok pemuda, ada kelompok aktivis mahasiswa. Ada juga kelompok profesional, baik itu bidan, dokter, semuanya ada, wanita. Dengan demikian dapatlah kita simpulkan kembali lagi bahwa Partai kita ini memang lahir bukan dilakukan oleh satu kelompok orang tertentu. Tapi betul-betul dilahirkan dari kandungan rakyat Indonesia.
Tujuannya pun sudah jelas. Waktu itu untuk bagaimana bisa menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa dari transisi politik Pasca Pemilu tahun 1955. Yang pada awalnya ketika Pasca Kemerdekaan tahun 1948 itu, tahun 1945-1948 kemudian proses pentahapan untuk menuju pemilu, terjadi perdebatan yang panjang antara monopartai atau multipartai.
Inflasi kita waktu itu 690 persen, pengangguran dimana-mana, stabilitas politik yang tidak bisa kita kendalikan. Ada sekelompok orang yang ingin merubah ideologi Pancasila menjadi ideologi komunis. Dan tidak boleh Golkar malu untuk mengatakan ini. Karena Golkar lahir mempunyai nilai dan cita-cita. Itu perbedaan kita di situ. Golkar tidak hanya merebut kekuasaan. Tidak hanya mengisi kemerdekaan. Tapi Golkar lahir untuk mempertahankan ideologi Pancasila dari serangan ideologi lain. Itu perbedaan kita dengan partai yang lain.
Bapak Ibu semua atas dasar pemahaman itu maka sangatlah layak kemudian untuk Golkar terus melakukan sebuah proses evolusi. Golkar dalam sejarahnya, yang telah diwariskan oleh para senior-senior, oleh para pendiri itu dengan legacy masing-masing zamannya ada. Maka saya berpendapat, setelah saya melakukan kontemplasi, diskusi dengan berbagai senior, termasuk Pak Agung dan banyak senior-senior yang lain. Dapatlah kita simpulkan bahwa Golkar ini partai yang luar biasa. Enggak ada partai di Republik ini yang proses kelahiran sejarahnya dilahirkan oleh pendiri bangsa. Pikiran-pikiran besarnya pun didirikan, digagas oleh para pendiri bangsa.
Dan karena itu Golkar enggak boleh ada satu kelompok orang tertentu, yang mengklaim bahwa Golkar ini seperti punya mereka. Enggak boleh satu kelompok tertentu merasa punya partai Golkar ini. Enggak boleh. Apalagi keluarga tertentu. Enggak boleh. Yang bisa mengklaim Golkar ini punya siapa adalah seluruh rakyat Indonesia yang merasa bagian dari para keluarga besar.
Ini penting. Ini biar kita fair. Kalau kita mau besar partai ini, kalau kita betul-betul mengembalikan partai ini kepada khittah perjuangannya, maka kita harus inklusif. Kita tidak boleh eksklusif. Karena memang sejarah partai ini didirikan bukan untuk eksklusif. Partai ini ada orang pintar baca, ada orang pintar tulis, ada orang pemain lapangan, pintar lapangan.
Karena pintar tulis, pintar pidato, pintar baca, kalau tidak pintar lapangan, datang pemilu, lewat itu suara. Ada pun sebaliknya. Pintar main lapangan, mungkin konsepnya tidak sebaik di lapangan, tapi kalau terlalu banyak permainan lapangan, lewat barang itu. Itu. Ini kayak Baco (Sekretaris DPD Partai Golkar DKI Jakarta) ini. Baco. Mana Baco? Baco ini visi, misi, gizi, lapangan, paten barang.
Bapak ibu semua, ini penting saya mengingatkan kita. Bahwa memang partai ini adalah betul-betul merupakan aset bangsa yang tujuannya, yang doktrinnya, salah satu diantaranya adalah seperti diajarkan oleh para senior tentang karya kekaryaan. Kalau itu maka kemudian, dalam pandangan kajian saya, Golkar ini harus melakukan politik kesejahteraan. Bukan politik tricky. Karena memang kita digabungkan dalam kategori fungsional. Waktu itu dilahirkan, diharapkan untuk ada satu kekuatan politik yang tidak berafiliasi dengan partai politik. Waktu itu kita menjadi golongan. Peserta politik tapi menjadi partai politik ketika masuk di pasca reformasi, yang namanya Paradigma Baru Partai Golkar itu.
Jadi, memang kita harus berpikir jangan seperti yang lain. Nah, dalam perspektif itulah kemudian, saya ingin menyampaikan bahwa Forum Rapimnas adalah forum pengambilan keputusan tertinggi nomor dua setelah Munas. Dan ini merupakan bagian daripada mekanisme.
Partai Golkar tidak boleh mengkultus individualis. Nggak boleh feodalis. Golkar telah mengajari kita bahwa kita taat, tunduk pada aturan-aturan dan mekanisme yang ada. Kita mempunyai anggaran dasar, kita mempunyai anggaran rumah tangga, kita mempunyai PO, kita mempunyai Juklak dan Juknis. Karena itu, apa yang harus kita dengar? Ya aturan itu. Jadi saya harus sampaikan di sini.
Dan Bapak-Ibu semua (yang hadir di forum Rapimnas ini) adalah tokoh-tokoh Golkar, pahlawan-pahlawan Golkar, yang ada pada garda terdepan untuk memenuhi apa yang menjadi target Pemilu nanti di 2029. Nah, kaitannya dengan itu, kita juga telah melakukan selain Rapimnas, rapat-rapat mekanisme pleno, rapat harian sebagai bentuk bagian daripada konsolidasi. Harapannya adalah kita harus mampu melahirkan satu program, pemikiran, ataupun evaluasi terhadap apa yang telah kita lakukan.
Bapak-Ibu semua, untuk sahabat-sahabat saya, saudara-saudara saya, abang-abang saya, Ketua-ketua DPD. Saya ingin di Rapimnas ini, Bapak-Ibu semua harus menyampaikan pemikiran-pemikirannya per-DPD. Nggak boleh lagi perwakilan per wilayah-perwilayah. Nggak boleh. Saya belajar organisasi, Pak Agung, mungkin jadi pengurus DPD Partai Golkar ini baru. Tapi saya sudah melewati fase proses organisasi dari Ketua Kelas sampai Ketua Umum HIPMI. Ketua Umum HIPMI itu cuma tiga tahun, Pak Agung ya. Tapi yang menjadi Ketua Umum HIPMI empat setengah tahun, itu cuma saya. Jadi Pak Agung, Pak Ical, kemudian Pak Erwin, kemudian Pak Cicip, mereka nggak bisa merubah Anggaran Dasar untuk empat setengah tahun. Jadi kalau persoalan pemain-pemain lapangan, Insyaallah masih bisa kita coba lapangan. Kira-kira begitu.
Nah, Bapak-Ibu semua, kenapa harus daerah diberikan kedaulatan? Karena nggak bisa kita mengetahui apa yang menjadi perkembangan daerah kalau cara berpikir kita, cara berpikir Jakarta. Di Papua Barat belum tentu sama dengan di Aceh. Sumatera Utara belum tentu sama dengan Sumbar. Jadi saya berpandangan, saya menyampaikan semalam kepada Sekjen. “Sekjen, kran demokrasi itu harus dibuka. Jangan ada penyempitan saluran demokrasi. Dan ruang demokrasi itu adalah berikan untuk mereka bicara. Partai ini nggak boleh kita kelola untuk kepentingan satu kelompok tertentu. Partai ini dikelola untuk kepentingan negara. Bahaya sekali,”.
Begitu kita bicara negara, Palu jatuh. Berarti mungkin Palu pun ikut bicara. Bahwa partai ini dikelola kadang-kadang bukan untuk kepentingan negara. Jadi ini menurut Palu ya, bukan menurut saya. Sampai dia protes juga, bayangkan. Jangankan peserta rapim, Palu pun dia protes, Pak. Untung dia tidak bisa bicara, kalau bisa interupsi dia ini.
Jadi Bapak Ibu semua, saya ingin menegaskan kembali bahwa Partai Golkar nggak boleh dijadikan sebagai partai untuk memperjuangkan kepentingan kelompok tertentu. Kelompok-kelompok bisnis, nggak boleh. Partai Golkar harus kembali kepada khittah perjuangannya untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat dan yang terbaik untuk rakyat. Ini, saya sampaikan kepada Bapak Ibu smua. Insya Allah, tolong ingatkan saya. Saya ingin menjadi Ketua Umum Partai Golkar, tidak akan pernah saya menjadikan Partai Golkar untuk mengurus kepentingan pribadi saya. Apalagi usaha saya. Jangan pernah kalian pikir. Nggak akan pernah.
Untuk semua anggota fraksi, insya Allah tolong ingatkan saya. Saya tidak akan pernah memerintah atau meminta untuk kalian mengurus pribadi saya. Karena saya sudah tahu bagaimana cara mengurus pribadi saya sejak kecil. Saya dilahirkan bukan untuk diurus, tapi untuk mengurus. Itulah perbedaan saya yang subtantif. Itulah perbedaan saya. Dan jangan lagi ada cara-cara. Seolah-olah kita harus mengurus orang per orang. Tidak! Partai ini adalah milik kita bersama. Partai ini adalah aset negara. Kita harus menjaga marwah partai ini untuk kebaikan bangsa dan negara.
Bapak Ibu semua, ini penting saya ngomong begini. Kenapa? Saya ini mantan Bendahara Golkar Provinsi. Tahu sakitnya. Satu tahun ini saya pelajari abang-abang. Saya pelajari semua anggota DPR. Saya pelajari kelakuan kita lah kira-kira begitu. Saya pikir sudah cukup. Keluarga besar partai Golkar mempelajari Ketua umumnya, yang dari Papua hitam ini. Dan Ketua Umum juga sudah cukup mempelajari semua kader partai, baik di fungsionalis DPP, fraksi maupun DPD-DPD I. Waktu sekarang bukan waktu untuk saling mempelajari. Waktu sekarang adalah harus bergandengan tangan untuk kita merajut. Untuk menuju kepada pulau yang menjadi tujuan kita bersama.
Saya cerita sedikit pengalaman. Bapak Ibu semua. Ketika saya jadi Bendahara Partai, dulu DPP ini main janji-janji saja. Benar nggak? Setiap Ketua Umum turun, atau pengurusnya turun, nanti bantu ini ya. Bantu ini ya, bikin program. Pulang, nggak ada yang ditinggalkan. Bantu sana, bantu sini, program sana. Nggak turun-turun juga barang itu. Dikirain DPD I, DPD II itu adalah semuanya bisa dieksekusi.
Saya sudah tegaskan kepada Sekjen dan Bendahara Umum. Di periode saya, Insya Allah pengalaman-pengalaman yang menyakitkan bagi DPD II dan DPD I dengan janji-janji, Insya Allah saya tidak akan melakukan hal yang pernah saya rasakan. Kalau tidak bisa kita kasih, jangan janji. Karena bagi orang yang sering menjanji, itu bagus. Tapi akan jauh lebih baik kalau bisa eksekusi janji-janjinya.
Bapak, Ibu semua hadirin yang berbahagia.
Dalam perspektif itu kemudian, sebagai ketua umum terpilih di Munas harus berjalan pada kerangka keputusan Munas. Munas telah mengamanatkan kita pada dua hal. Yang pertama adalah bagaimana bisa kita meningkatkan kursi DPR RI di Pemilu 2029 nanti. Yang kedua adalah mengawal pemerintah sebagai bagian konsekuensi daripada partai yang mengusung dan memperjuangkan pemerintah serta masuk dalam koalisi. Kita nggak boleh masuk dalam koalisi-koalisi banci. Nggak boleh.
Saya tidak tahu kalau ketua umum dulu ya, yang bisa maju-mundur, maju-mundur. Saya ini nggak bisa karena sopir angkot itu maju aja. Mundurnya nggak bisa gitu loh. Gitu. Saya nggak bisa disuruh tarik-mundur, tarik-mundur itu nggak bisa. Kelakuan orang timur itu kalau sudah A, ya A. Nggak pernah B, C, D. Dan kami nggak berpandai untuk main silat lidah untuk begono-begono-begono. Pele putus malintang patah. Nggak ada cerita barang ini.
Bapak, Ibu semua, dalam konteks itu, maka tidak akan mungkin kita bisa mencapai target peningkatan kursi tanpa konsolidasi. Dan alhamdulillah, saya terima kasih kepada pengurus DPP Partai Golkar, kepada semua senior-senior, kepada semua teman-teman daerah. Saya ingin menyampaikan kepada Dewan Pembina, Dewan Kehormatan, Dewan Etik, dan Mahkamah Partai, dari 38 DPD, kita sudah berhasil melaksanakan musda di 30 DPD. Tinggal 8, Kanda Andi Mattalatta, tinggal 8 DPD. Dan satu lagi, janji saya dulu di Munas ketika saya terpilih, saya tidak akan pernah melakukan musda di DPP Partai Golkar. Menurut saya itu pelanggaran konstitusi.
Musda itu yang di daerah, bukan di DPP. Hanya dua saja, nyali ketua umumnya yang becek, atau ada main-main, itu saja. Dan saya sudah sepakat untuk sisanya pun, dari 30 itu nggak ada yang deadlock, nggak ada yang dibawa ke pusat, dan semuanya Musda daerah, dan delapannya lagi kita akan melakukan Musda di daerah.
Bahwa dalam prosesnya ada negosiasi, ya namanya saja Golkar. Golkar ini nggak ada bola aja main, apalagi ada bola. Dan itu seni. Itu seni. Seni barang ini. Seni olah-mengolah.
Kenapa ini kita lakukan? Pasti banyak yang mengatakan loh, kenapa tidak seperti fight, berantem, apa segala macam. Fight itu ada dua, bisa di ruangan, atau negosiasi sebelumnya. Kita butuh kekompakan, Bapak-Ibu semua. Kita butuh kekompakan. Tidak akan mungkin partai ini besar tanpa kesulitan. Saya belum menemukan satu teori kepemimpinan dalam mengelola sebuah organisasi, yang mana organisasi itu akan survive dan mencapai tujuan tanpa ada kekompakan dan leadership yang baik. Saya belum menemukan teori itu. Atau mungkin karena saya kuliah tidak ada di Google kali. Tapi kalau ada di Google, untuk saya temukan, ya tolong sampaikan kepada saya.
Harapan saya adalah konsolidasi di tingkat provinsi, harus selesai paling lambat awal tahun depan. Dan saya minta kepada teman-teman DPD II harus kita melakukan konsolidasi. DPD I, DPD II, DPD II kecamatan, dan desa. Hanya ini salah satu kunci untuk kita bisa survive.
Bapak-Ibu semua, target kita ke depan adalah target bagaimana meningkatkan kursi. Urusan lain-lain boleh kita bicara lagi nanti di forum yang lain. Tapi saya ingin mengatakan bahwa kita harus komitmen dan kita harus mengawal keputusan Munas. Dan keputusan Munas itu adalah mengawal pemerintahan Prabowo-Gibran sampai selesai. Kapan selesainya? Tanya kepada Bapak Presiden Prabowo.
Dan sudah tentu kita harus rumuskan dengan mekanisme-mekanisme partai. Kalau saya fair aja, fair aja. Nah, dalam konteks itu, Bapak-Ibu semua, kita butuh survival. Nah, biasanya untuk menuju kepada survival itu ada yang namanya deep-steep. Ada kelompok yang merasa nyaman, ada kelompok yang merasa berpengaruh betul untuk bisa menahan lajunya tujuan perahu itu. Dan untuk menghadapi yang kelompok deep-steep, saya berpendapat bahwa kita harus melakukan apa yang disebut dengan to be or not to be.
Nggak ada pilihan. Bagi saya, tujuan partai di atas segala-galanya. Dan saya hanya ingin, Bapak-Ibu semua (tahu), bahwa tidak ada mimpi politik saya yang lain-lain. Saya sudah (cukup) alhamdulillah, sudah seperti sekarang, mimpi saya cuma satu aja. Bagaimana kita menjaga marwah partai dan menaikkan kursi partai. Itu mimpi saya.
Untuk itu, saya akan mewakafkan diri saya, baik moral maupun material, untuk menghadapi siapapun yang menahan laju tujuan partai ini. Saya jujur, harus saya ngomong dalam rapim ini. Rapim ini kan forum pengambilan keputusan tertinggi, nomor dua. Saya diajarkan dalam sebuah organisasi yang jangan memble. Saya diajarkan (dalam) sebuah organisasi dengan standar-standar etik, moral, dan komitmen. Standar etik, moral, dan komitmen itu harusnya dimanifestasikan. Bukan seperti orang Papua bilang, tulis lain, baca lain, bikin lain. Ini cara-cara begini sudah harus kita stop. Gaya-gaya lama begitu, sudahlah. Di depan bilang kita begini, habis itu begini, udahlah. Nggak jamannya lagi. Kita butuh kerja yang kuat.
Bapak, Ibu semua, karena itu dalam konteks politik, saya juga meminta pandangan dari para DPD-DPD I. HUT Golkar kemarin saya sudah sampaikan bahwa kita penting untuk melakukan penataan sistem politik, baik dalam pilkada kabupaten/kota, dan provinsi, maupun sistem pemilu legislatif. Saya minta di Rapim ini juga segera membahas, kalau bisa memutuskan, memutuskan saja.
Pro kontra terjadi ketika pada saat proses satu tahun lalu kami menyampaikan ide untuk pemilihan pilkada itu di DPR saja. Pro kontra terjadi. Ya namanya saja demokrasi. Tapi disini kan ada Kepala Daerah disini banyak. Ada Gubernur, ada Bupati. Menang saja sakitnya disini, apalagi kalah. Cost politiknya sudah terlalu tinggi, Bapak, Ibu semua. Orang cerai di tetangga gara-gara pilkada. Di kampung saya, tidak mau orang tegur saya, gara-gara pilkada.
Dan kemarin, alhamdulillah, target kita di Munas untuk bisa di pilkada kita (meraih) 60 persen. Saya terima kasih kepada semua kader Partai Golkar, terakhir kemarin kita PSU di Provinsi Papua, Partai Golkar mencapai 60 persen pemenangan dari semua kabupaten kota. Jadi mencapai target. Dan itu kerja kita semua. Itu kerja kita semua. Nggak ada yang lebih hero. Nggak ada. Semuanya yang punya kontribusi itu.
Saya pikir itu, Bapak-Ibu semua, sebagai pembukaan, nanti kita bahas, saya sendiri yang akan memimpin. Cara-cara untuk nahan-nahan mulut, saya tidak mau lagi. Silahkan bicara apa aja. Bapak-Ibu mau koreksi semua pengurus DPP, monggo. Nggak ada masalah. Inilah tempatnya. Daripada ngomong di luar, Golkar kan mengajarin kita, berdebat boleh di luar, begitu masuk forum, kita rapat, kita debat, begitu selesai, taat semua pada keputusan itu. Saya ingin mengembalikan cara-cara itu.
Supaya jangan di luar banyak ngomong, gitu. Boleh berbeda itu, boleh kok. Perbedaan itu rahmatan lil ‘alamin. Nggak ada demokrasi tanpa ada perbedaan. Justru, esensi demokrasi itu diawali dengan perbedaan. Baru ada keputusan. Jadi saya ingin, bapak ibu semua, Ketua-Ketua DPD I, saya kemarin terpilih waktu Munas, pandangan umum bukan per provinsi, (tapi) per wilayah. Rakernas juga per wilayah.
Saya bilang kok begini. Saya dulu belajar lain, hari ini lain ya? Atau mungkin DPP banyak masalah kali waktu itu ya. Saya sekarang, mendingan ada masalah diomongin, supaya kita cari solusi. Karena kepentingan cuma satu, partai. Bukan kepentingan orang per orang. Itu.
Sekali lagi, saya mengakhiri sambutan saya ini, Bapak-Ibu semua, izinkan saya untuk ingatkan, bahwa Insyaallah saya menjadi ketua umum partai politik, yang namanya partai Golkar, tidak akan pernah saya meminta, untuk mengurus urusan pribadi saya, apalagi bisnis saya di partai ini. Nggak pernah. Kalau itu terjadi, mendingan saya nggak usah menjadi ketua umum partai.
Karena saya, ditakdirkan dan dibesarkan, bukan dengan cara-cara itu. Kalau Ketua Umum aja nggak boleh, apalagi yang lain. Paham maksud saya. Tapi kalau mau gotong royong untuk kebesaran partai, ayo. Itu. Ayo, itu, itu. Saya selalu dapat ajaran Pak Agung, Pak Zainuddin, Pak Lodelijk, Pak Latumahina. Waktu dulu, setiap pemimpin ada masanya. Setiap masa ada pemimpinnya. Kan begitu Pak Agung ya. Jangan sampai slogan itu hanya para senior-senior aja. Begitu adek-adek jadi Ketua Umum, masih merasa terus jadi Ketua Umum gitu loh. Gak boleh, gak boleh. No, no, no. Gak boleh, ya. Gak boleh. Jangan teori itu hanya pada abang-abang. Begitu kita pemimpin masih terus merasa Ketua Umum. Gimana? Gak bisa. Ini adalah generasi baru Golkar. Ini generasi baru Golkar. Ini generasi baru Partai Golkar. Jangan.
Jangan uji nyali, saya kasih tahu. Sopir angkot dan kondektur angkot itu, dia mau stop itu hanya dia dan Tuhan yang tau lampu sein ke mana. Jadi saya sampaikan aja. Tapi kalau mau uji, ayo. Om suka itu, om suka. Om suka.
Kita ini nothing to lose soalnya. Bagaimana Bang Demer? Ini universitas olah-olah ini. Kita ini, ya saya pikir Bapak Ibu semua begitu. Saya gak boleh banyak ngomong. Tapi saya yakin, kalau semangat kita begini semua, Insya Allah, 2029 Partai Golkar akan mendapatkan hasil yang baik. Kita butuh kekompakan Bapak Ibu semua. Kita jaga marwah Partai ini. Kalau Partai ini besar, semua anggota kader Partai akan besar. Kalau marwah Partai ini kita bisa tegakkan, maka harga diri semua kader Partai juga akan tegak berdiri.
Karena itu dibutuhkan kolaborasi. Dibutuhkan sinergi. Dibutuhkan saling memahami. Bukan ada yang lari kencang, ada yang tarik mundur. Itu namanya rem tangan. Dan ini, ini bibit penyakit. Kita ini sedang berkompetisi, bersaing dengan Partai lain yang juga pengen untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Maka kita harusnya mengumpulkan semua sinergi untuk kita sama-sama bergandengan tangan. Bagaimana, Kak Nurdin Halid? Cocok? Ini, kakanda ini kan eksekutor asli nih. Ini, kakanda Nurdin ini kan eksekutor. Cuma kakanda, Adinda juga punya kemampuan yang beda-beda tipis sama kakanda. Ini, ini komplit kakak. Komplit.
Saya diajarin sama Pak Zainuddin Amali dalam ilmu stratak. Orang berhasil dalam politik itu, ada empat. Dia mempunyai ide. Dalam teorinya Pak Idrus Marham, ide dan gagasan sebagai instrumen. Yang kedua, adalah dia punya kemampuan untuk membuat strategi. Yang ketiga, dia punya jaringan. Yang keempat, dia punya logistik. Dan yang kelima, dia punya nyali untuk mengeksekusi. Yang berbahaya adalah kalau satu orang, punya itu semua. Itu berbahaya. Kayak kak Nurdin Halid begini.
Saya pikir demikian. Terima kasih. Ini saya buka yang ada serius-seriusnya, ada ini-ini juga. Supaya kita semua menjalankan partai ini dengan baiklah. Tolong ingatkan bahwa saya janji dalam rapat ini, rapim ini. Semua mekanisme pengambilan keputusan akan lewat mekanisme partai. Gak ada keputusan orang per orang. Lewat rapat harian. Lewat rapat harian terbatas. Lewat rapat pleno. Ataupun rapat-rapat lain yang ada dalam PO, Juklak, dan Juknis partai. Demikian.
Terima kasih mengakhiri sambutan saya. Saya ingin mengajak kita semua untuk meneriakan yel-yel ya. Kalau saya bilang Golkar, (teriaklah) solid. Kalau saya bilang “Indonesia”, jawablah “maju”. Ini jangan bilang cuma solid dalam ruangan ini ya. Abis itu belakang lagi, main lagi barang ini. Udah lah, Aduh. Itu yang orang Papua bilang ke Nurdin. “Adek, kau baru mau tulis, kakak sudah baca”.
Udah lah, kita sama-sama tahu barang ini. Kita ada media soalnya. Kamu media jangan beritakan lain-lain ya. Boleh. Yang bagus-bagus saja. Saya gak boleh ngomong yang lain, cuma begitu saja.
Baik Bapak Ibu semua, kalau saya bilang Golkar, solid. Indonesia, maju. Golkar! Solid! Di belakang belum. Cuma, ya Golkar biasa begitu.
Di depan semua manis, di belakang belum tentu. Ini buktinya ini, sama dengan ini. Ini tes-tes saja ini. Golkar! Solid! Indonesia! Maju! Indonesia! Maju! Kalau begini, insya Allah, Pak Prabowo, Pak Presiden akan mendengar begini. Dia bilang, memang Golkar paten. Dan insya Allah, kursi Golkar ke depan naik. Ah, gitu lho. Demikian, saya mohon maaf. Terima kasih.
Wa billahi taufiqul hidayah. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Saya izin seluruh peserta rapimnas, dan selalu memanjatkan puji syukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, rapimnas I Partai Golkar secara resmi saya buka! (*)
Berita terkait
AMPG DKI Umumkan 301 Pengurus Baru,...
Anas Urbaningrum: Kompetisi Politik Harus Ksatria...
Dukung Pemutusan Akses Grok, Ketua KPPG...
Prasetyo Hadi: Sikap Demokrat Soal Pilkada...
Hadapi Pemilu 2029, Kaesang Pangarep: PSI...
Sarmuji: Komunikasi Informal Antarpartai Bahas Koalisi...
Berita Terbaru
Menopang Ekonomi Indonesia di 2026 :...
Hetifah Sjaifudian: Anggaran Khusus Bencana Wajib...
