Berita Senayan
Network

JJ Rizal Soroti Evolusi Ideologis Golkar Sejak 1930

Muhammad Shofa
Laporan Muhammad Shofa
Selasa, 09 Desember 2025, 09:20:44 WIB
JJ Rizal Soroti Evolusi Ideologis Golkar Sejak 1930
Diskusi Buku "Golkar : Sejarah yang Hilang : Akar Pemikiran dan Dinamika" di Sekretariat DPP Partai Golkar Jakarta pada Senin (08/12).



JAKARTA, BERITA SENAYAN – Sejarawan dan penerbit Komunitas Bambu, JJ Rizal, menekankan pentingnya memahami evolusi ideologis Partai Golkar dalam diskusi buku “Golkar, Sejarah yang Hilang: Akar Pemikiran dan Dinamika” di Sekretariat DPP Partai Golkar, Jakarta, Senin (08/12). Dalam paparannya, ia menyebut karya David Reeve sebagai satu-satunya penelitian yang mampu menelusuri jejak intelektual Golkar jauh sebelum periode Sekber tahun 1964.

Rizal menjelaskan bahwa mayoritas literatur politik yang beredar cenderung menempatkan kelahiran Golkar pada fase-fase menjelang Orde Baru. Padahal, penelitian Reeve menunjukkan bahwa gagasan yang kemudian menjadi fondasi Golkar telah muncul sejak era pergerakan nasional 1930-an.

“Ini warna pemikiran kebangsaan yang sering hilang dari pembacaan sejarah,” kata Rizal.

Menurutnya, Reeve memiliki keunggulan riset berkat keterlibatannya di Indonesia, baik saat bekerja di Kedutaan Australia maupun saat mengajar di Universitas Gadjah Mada dan Universitas Sanata Dharma. Pemahaman lapangan dan akses data tersebut membuat kajiannya dianggap sebagai karya paling lengkap mengenai Golkar.

Rizal menyoroti bahwa selama hampir satu abad perjalanannya, Golkar mengalami berbagai transformasi ideologis, mulai dari fase pergerakan, masa kemerdekaan 1945, dinamika politik 1950-an, hingga pembentukan Sekber 1964. Evolusi tersebut berlanjut pasca peristiwa 1965, kemudian berubah signifikan pada 1988 ketika istilah “golongan karya” dihilangkan, dan akhirnya memasuki babak baru sebagai partai politik setelah reformasi 1998.

“Perubahan-perubahan ini menunjukkan bahwa Golkar bukan organisasi yang statis. Ia mampu membaca zaman dan beradaptasi,” ujar Rizal. Ia menambahkan bahwa hal inilah yang membuat Golkar tetap bertahan sebagai kekuatan politik besar setelah runtuhnya Orde Baru, berbeda dengan partai-partai lain yang mengalami kemunduran.

Buku Reeve yang terbit tahun 1983 baru diterjemahkan ke bahasa Indonesia pada 2013, namun sang penulis menambahkan ulasan terbaru untuk menghubungkan pembacaan sejarah dengan perkembangan kontemporer Golkar. “Reeve menyertakan review pendek agar pembaca melihat kesinambungan sejarah Golkar dari masa ke masa,” jelas Rizal.

Melalui diskusi ini, Rizal berharap publik dapat melihat Golkar bukan sekadar fenomena politik Orde Baru, tetapi sebagai institusi yang memiliki akar ideologis panjang dan peran konsisten dalam perjalanan bangsa (red)