Berita Senayan
Network

David Reeve : Golkar Bukan Bentukan Militer

Muhammad Shofa
Laporan Muhammad Shofa
Selasa, 09 Desember 2025, 10:41:16 WIB
David Reeve : Golkar Bukan Bentukan Militer
David Reeve (tengah0 dalam acara Diskusi Buku "Golkar, Sejarah yang Hilang : Akar Pemikiran dan Dinamika" yang digelar di Sekretariat DPP Partai Golkar, Senin (08/12)



JAKARTA, BERITA SENAYAN – Sejarawan dan peneliti politik Indonesia, David Reeve, menegaskan bahwa Golkar bukanlah produk bentukan militer sebagaimana anggapan umum selama ini. Pernyataan itu ia sampaikan dalam acara Ngopi dan Diskusi BukuGolkar, Sejarah yang Hilang: Akar Pemikiran dan Dinamika” di Sekretariat DPP Partai Golkar, Jakarta, Senin (08/12).

Reeve menjelaskan bahwa penelitian mendalamnya justru menemukan akar gagasan golongan karya berasal dari Presiden Sukarno pada pertengahan 1950-an, bukan dari institusi militer. “Saya kaget ketika menemukan bahwa pencetus ide Golkar adalah Bung Karno, bukan tentara,” kata Reeve.

Ia menegaskan bahwa Sukarno saat itu sedang mencari alternatif selain sistem multipartai yang dianggapnya gagal menjaga stabilitas politik. Ketika kabinet-kabinet pada era 1950-an jatuh silih berganti, Sukarno secara terbuka menyampaikan kekecewaannya melalui seruan “kuburkan partai-partai”. Dari kegelisahan inilah konsep golongan karya muncul.

Menurut Reeve, Sukarno melihat bahwa kelompok-kelompok sosial seperti petani, pekerja, atau pegawai memiliki kepentingan bersama yang lebih solid dibandingkan kepentingan partai politik. “Konsep itu lahir dari pemikiran bahwa bangsa bisa diorganisasi melalui golongan fungsional, bukan partai,” jelasnya.

Reeve mengungkapkan bahwa militer memang berperan dalam penyusunan struktur Sekber Golkar pada 1964, tetapi kontribusi itu terjadi pada tahap organisasi, bukan penciptaan gagasannya. “Dalam satu aspek, militer punya peran. Tetapi akar ideologinya jelas berasal dari Sukarno,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa banyak orang keliru karena hanya melihat momentum 1964 dan perkembangan Golkar pada era Orde Baru, tanpa menelusuri fondasi gagasan pada 1950-an. Kesalahan pemahaman ini juga diperparah oleh minimnya literatur tentang Golkar dibandingkan partai-partai lain seperti PNI, Masyumi, NU, atau PKI.

Melalui penelitian panjang yang kemudian menjadi dasar bukunya, Reeve berusaha memperbaiki narasi publik agar sejarah Golkar tidak dilihat secara simplistis. “Kalau hanya melihat 1964, kita akan menyimpulkan bahwa Golkar ciptaan tentara. Padahal sejarahnya jauh lebih panjang dan kompleks,” kata Reeve.

Paparannya menegaskan kembali bahwa Golkar adalah hasil evolusi gagasan politik nasional, bukan instrumen militer semata. Temuan ini sekaligus menjadi bagian penting dari upaya menempatkan Golkar dalam konteks sejarah politik Indonesia yang lebih utuh (red)