Berita Senayan
Network

Habib Syarief Desak Pemerintah Tambah Anggaran Bencana Sumatra 10 Kali Lipat

Muhammad Shofa
Laporan Muhammad Shofa
Senin, 08 Desember 2025, 15:00:18 WIB
Habib Syarief Desak Pemerintah Tambah Anggaran Bencana Sumatra 10 Kali Lipat
Anggota Komisi X DPR RI, Habib Syarief Muhammad



JAKARTA, BERITA SENAYAN – Anggota Komisi X DPR RI Fraksi PKB, Habib Syarief, menilai alokasi anggaran Rp 50 miliar dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendikti Saintek) untuk penanganan bencana sektor pendidikan di Sumatra masih jauh dari memadai. Ia meminta pemerintah menaikkan anggaran tersebut hingga 10 kali lipat agar sebanding dengan skala kerusakan di tiga provinsi terdampak.

“Saya cukup kaget ketika mendengar bantuan yang dikeluarkan hanya Rp 50 miliar. Untuk bencana sebesar ini, anggaran itu sangat kecil. Saya sepakat jika dinaikkan minimal 10 kali lipat, karena cakupannya mencakup tiga provinsi dan sejumlah perguruan tinggi yang juga terdampak,” ujar Habib Syarief dalam rapat Komisi X DPR dengan Kemendikti Saintek, Senin (8/12/2025).

Habib menyebut situasi di lapangan masih sangat darurat, terutama terkait kebutuhan air bersih dan sanitasi. Ia menilai teknologi penyaringan seperti ICB dan green ultrafiltration baru mampu menjangkau sekitar 20 persen wilayah terdampak.

“Kami mendapat laporan bahwa banyak masyarakat terpaksa meminum air banjir demi menyambung hidup. Ini berbahaya. Air bersih layanan dasar yang tidak bisa ditunda, termasuk untuk fasilitas kesehatan, posko, dapur umum, dan perguruan tinggi terdampak,” tegasnya.

Ia juga menyoroti perlunya penguatan dapur umum, yang saat ini sebagian besar masih ditopang lembaga kemanusiaan. Selain itu, kebutuhan pendampingan psikologis dinilai sangat mendesak karena trauma masyarakat terus meningkat dan dapat berlangsung lebih dari satu tahun.

“Kami menerima laporan bahwa trauma masyarakat sudah mencapai tingkat berat. Bahkan ada warga yang merasa tidak lagi memiliki harapan hidup. Ini alarm serius bagi pemerintah,” imbuhnya.

Habib juga meminta pemerintah memberikan beasiswa darurat dan pembebasan UKT bagi mahasiswa yang berada di wilayah bencana.

“Untuk tahun ini, mahasiswa di daerah bencana harus dibebaskan dari UKT. Ini bukan situasi normal,” ujarnya.

Kemendikti Saintek mencatat terdapat 60 perguruan tinggi terdampak banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Aceh menjadi daerah dengan terdampak terbanyak, yakni 31 kampus, disusul Sumatera Utara 14 kampus, dan Sumatera Barat 15 kampus.

Sebagian besar kegiatan belajar mengajar terhenti karena akses terputus dan kerusakan fasilitas kampus. “Banyak fasilitas pembelajaran seperti komputer dan laptop yang rusak. Laboratorium dan lapangan juga banyak yang ambruk,” kata Habib.

Untuk jangka panjang, ia mendorong integrasi kurikulum kebencanaan agar dunia pendidikan lebih siap menghadapi bencana di masa mendatang. Habib mengapresiasi dukungan BRIN dalam menyediakan data saintifik kebencanaan, namun menilai perlu adanya pusat kajian dan laboratorium kebencanaan terpadu lintas kementerian.

Dengan penekanan pada pemenuhan kebutuhan dasar, pemulihan pendidikan, dan penguatan riset kebencanaan, Habib Syarief berharap penanganan bencana di Sumatra dapat dilakukan lebih cepat, terukur, dan berbasis sains. (*)