Syaiful Huda Desak Audit Keselamatan Kereta Api Nasional
Minggu, 26 Oktober 2025, 15:44:36 WIB
JAKARTA, BERITA SENAYAN – Rentetan kasus kereta api anjlok yang terus terjadi dalam beberapa bulan terakhir menjadi sorotan publik. Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Syaiful Huda, mendesak Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melakukan audit keselamatan independen untuk memastikan objektivitas dalam rekomendasi perbaikan layanan transportasi kereta api di Indonesia.
“Kasus kereta api anjlok dalam beberapa bulan terakhir terus terjadi. Agustus lalu setidaknya ada tiga kasus — KA Argo Bromo di Subang, KRL di Stasiun Jakarta Kota, dan Kereta Kuala Stabas di Lampung. Bulan ini kembali terjadi, yakni Kereta Purwojaya di Kedunggede, Bekasi. Meski tidak ada korban jiwa, kasus ini tidak bisa dianggap sepele,” ujar Huda, Minggu (26/10/2025).
Menurut Huda, kereta api kini telah menjadi tulang punggung transportasi nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penumpang kereta api terus meningkat pesat setiap tahun.
Pada tahun 2023, total penumpang kereta api nasional — baik jarak jauh, lokal, maupun commuter — mencapai 365 juta orang, dan pada tahun 2024 melonjak menjadi lebih dari 500 juta penumpang.
“Tingginya jumlah penumpang per tahun ini harus dimaknai bahwa kereta api telah menjadi tulang punggung transportasi nasional. Karena itu, setiap insiden kecelakaan harus menjadi fokus evaluasi dan perbaikan,” jelas politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu.
Huda menilai frekuensi kecelakaan yang tinggi mencerminkan krisis keselamatan transportasi di Indonesia. Ia menyebut sedikitnya ada tiga penyebab utama yang kerap memicu kecelakaan kereta api, yakni:
-
Usia prasarana yang sudah tua,
-
Akumulasi kerusakan sarana, dan
-
Cacat prosedur operasional.
“Kami menilai tingginya insiden kereta api di Indonesia membutuhkan intervensi kebijakan, regulasi, dan aksi konkret yang radikal, mengingat jumlah penumpang yang begitu besar,” tegasnya.
Legislator asal Jawa Barat VII itu mendesak Kemenhub segera mengambil langkah konkret agar kecelakaan kereta api — baik jarak jauh, lokal, maupun commuter — tidak terus berulang.
Ia mengusulkan agar pemerintah segera melakukan peremajaan infrastruktur menggunakan teknologi terbaru. Jalur rel yang sudah berusia tua harus segera diganti dan dilengkapi dengan teknologi pengawasan otomatis, seperti Track Geometry Measurement System (TGMS) yang mampu memindai kerusakan rel secara digital dan real-time.
“Sudah saatnya kita beralih dari perawatan korektif yang menunggu kerusakan menjadi perawatan prediktif berbasis data sensor, seperti praktik yang diterapkan di negara maju,” pungkasnya (red).
Berita terkait
RUU Komoditas Strategis Dinilai Abaikan Potensi...
Kekerasan Anak di Sekolah Meningkat, DPR...
Geger Ibu Hamil Meninggal Usai Ditolak...
Selly Desak Revisi Jadwal Masyair Demi...
DPR Minta SOP Anti-Bullying Diterapkan di...
Rina Sa’adah Desak Usut Tuntas Kasus...
Berita Terbaru
Transformasi Digital Jadi Fokus Baru Pengajian...
Pengajian Al Hidayah Lantik Pengurus Baru...
