Puan Maharani Lepas Delapan Pemain Muda Indonesia ke Portugal
Kamis, 09 Oktober 2025, 21:24:01 WIB
JAKARTA, BERITA SENAYAN – Ketua DPR RI Dr. (H.C.) Puan Maharani bertemu dengan delapan pemain muda Indonesia penerima program beasiswa sepak bola Korea–Korea Seleção (KKS) yang akan mengikuti pelatihan selama satu tahun di Portugal. Para pemain ini akan berlatih, bersekolah, dan bertanding di negara asal Cristiano Ronaldo tersebut.
Pertemuan berlangsung di ruang pimpinan DPR, Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen Senayan, Rabu (8/10/2025). Dalam suasana santai, Puan mengajak para pesepakbola muda itu makan siang bersama dan memberi semangat sebelum mereka berangkat ke Portugal.
Program Korea–Korea Seleção (KKS) merupakan kolaborasi tiga tokoh: Wakil Ketua MPR Bambang Wuryanto (Bambang Pacul), Justinus Lhaksana (Coach Justin), dan Abel Luís da Silva Costa Xavier (Faisal Xavier), legenda sepak bola asal Portugal. Keduanya turut mendampingi para pemain saat bertemu Puan.
Delapan penerima beasiswa yang akan berangkat adalah Agha, Dio, Indra, Zuhdan, Mufid, Farrel, Wisnu, dan Maulana Fadli. Mereka terpilih setelah melalui seleksi ketat dari 2.410 pemain U-15 di Jawa Tengah.
Puan Dukung Pembinaan Sepak Bola Usia Dini
Dalam pertemuan itu, Puan menegaskan komitmen DPR untuk mendukung pembinaan sepak bola nasional sejak usia muda. Ia menilai penting membangun sepak bola tidak hanya dari aspek fisik, tetapi juga dari chemistry dan kerja sama tim.
“Sepak bola adalah olahraga tim. Di lapangan, bukan hanya kemampuan individu yang penting, tapi juga bonding dan chemistry untuk membentuk tim yang solid,” ujar Puan.
Puan berharap program KKS dapat menjadi pintu kebangkitan sepak bola Indonesia dan meminta pemerintah, federasi, serta Kemenpora memberi perhatian serius agar para talenta muda ini tidak direkrut negara lain.
“Kita sudah sekolahkan mereka jauh-jauh ke Portugal. Jangan sampai setelah kembali, talenta ini justru tidak dimanfaatkan oleh Indonesia. Saya minta ini juga disampaikan ke Pak Erick Thohir,” tegasnya.
Puan juga berpesan kepada para pemain agar menjaga kesehatan, belajar dengan sungguh-sungguh, dan membuat bangga keluarga serta Indonesia.
Bukti Pembinaan yang Berhasil
Bambang Pacul menyebut program KKS adalah yang pertama di Indonesia yang membuka jalur internasional bagi pemain muda dengan skema pertukaran pelajar sesuai aturan FIFA. Dari delapan pemain, enam di antaranya telah mengikuti seleksi Timnas U-17.
“Ini bukti pembinaan yang benar bisa menghasilkan pemain hebat,” ujar Pacul.
Sementara Coach Justin menceritakan bahwa awalnya anak-anak Indonesia diremehkan oleh klub-klub Portugal, namun mereka membuktikan kualitasnya dengan menaklukkan salah satu klub terbaik di Lisbon dengan skor 7–2.
“Kalau dilatih dengan benar, pemain Indonesia bisa bersaing di level internasional,” tegas Justin.
Dukungan dan Harapan dari Orangtua
Rasa bangga juga datang dari para orangtua. Salah satunya orangtua Maulana Fadli yang mengaku sempat tak percaya anaknya akan benar-benar berangkat ke Portugal.
“Saya bangga dengan pencapaian anak saya. Ini kesempatan luar biasa,” ujarnya.
Menanggapi itu, Puan memberi selamat kepada para orangtua dan menyampaikan pesan agar mereka tetap mendukung dari jauh.
“Mungkin nanti para orangtua akan kangen, tapi tahan sedikit rasa kangen itu dan doakan mereka mendapat pengalaman terbaik di Portugal,” tutur Puan.
Sebagai simbol kepercayaan, Puan menyerahkan bendera Merah Putih kepada para pemain dan menerima jersey bertuliskan namanya dari mereka.
Semangat dari “Korea-Korea”
Program KKS berawal dari semangat masyarakat Jawa Tengah, terutama kalangan “korea-korea” — istilah lokal bagi kelompok menengah ke bawah yang berjuang meningkatkan taraf hidup. Bambang Pacul, yang dikenal sebagai “komandan korea”, menjadikan semangat itu sebagai inspirasi untuk membuka peluang global bagi anak muda berprestasi.
“Gotong royong semua pihak memungkinkan anak-anak ini berangkat ke Portugal,” ujar Puan menutup pertemuan.
Daftar Penerima Beasiswa KKS:
-
Agha – Anak dari Anton dan Dwi (Manager Pabrik Tembakau)
-
Dio – Anak dari Sugeng dan Poninten (Pekerja Mebel)
-
Indra – Anak dari Enjang (Keamanan Terminal, single parent)
-
Zuhdan – Anak dari Tarjono dan Damiroh (Penjual Kue di Pasar)
-
Mufid – Anak dari Fajar dan Rohmah (Guru SMK)
-
Farrel – Anak dari Ayu (Penjual Toko Klontong, single parent)
-
Wisnu – Anak dari Nyoto dan Dahlia (Pengusaha Knalpot Motor)
-
Maulana Fadli – Anak dari Ayu (Penjual Kerupuk, single parent)
Berita terkait
RUU Komoditas Strategis Dinilai Abaikan Potensi...
Kekerasan Anak di Sekolah Meningkat, DPR...
Geger Ibu Hamil Meninggal Usai Ditolak...
Selly Desak Revisi Jadwal Masyair Demi...
DPR Minta SOP Anti-Bullying Diterapkan di...
Rina Sa’adah Desak Usut Tuntas Kasus...
Berita Terbaru
Transformasi Digital Jadi Fokus Baru Pengajian...
Pengajian Al Hidayah Lantik Pengurus Baru...
