Tragedi Al Khoziny, Sari Yuliati Desak Pemerintah Evaluasi Bangunan Pesantren di Indonesia
Selasa, 07 Oktober 2025, 20:19:23 WIB
JAKARTA, BERITA SENAYAN – Wakil Ketua Komisi III DPR RI Fraksi Partai Golkar, Sari Yuliati, meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar keselamatan dan kelayakan bangunan pesantren di seluruh Indonesia. Seruan ini disampaikan menyusul tragedi ambruknya bangunan di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur, yang menewaskan puluhan santri.
Sari menegaskan, insiden memilukan tersebut menjadi peringatan keras bagi seluruh pemangku kebijakan agar tidak abai terhadap aspek keamanan fisik bangunan pendidikan dan keagamaan.
“Ini bukan sekadar tragedi lokal, tetapi alarm nasional tentang pentingnya pengawasan terhadap pembangunan fasilitas pendidikan dan pesantren. Kita tidak boleh menunggu jatuh korban lagi untuk bertindak,” ujar Sari kepada wartawan, Rabu (7/10/2025).
Menurut legislator asal Partai Golkar itu, Kementerian Agama bersama Kementerian PUPR harus segera mengevaluasi izin, struktur, dan standar keselamatan bangunan pesantren di seluruh daerah. Ia menilai masih banyak pondok pesantren yang dibangun secara swadaya tanpa melalui mekanisme teknis yang memadai.
“Pesantren adalah tempat mendidik generasi muda. Keamanannya harus menjadi prioritas. Pemerintah daerah dan kementerian terkait perlu memastikan setiap gedung memiliki kelayakan struktur dan izin yang sesuai,” tegasnya.
Selain mendorong langkah preventif, Sari juga menegaskan bahwa proses hukum terhadap insiden Al Khoziny harus tetap berjalan transparan dan tuntas. Komisi III DPR RI, kata dia, akan terus mengawal kinerja kepolisian dalam mengungkap dugaan unsur kelalaian maupun pelanggaran prosedur.
“Kami mendukung penuh Polda Jatim dalam menegakkan hukum secara profesional. Jika terbukti ada unsur kelalaian, maka harus ada pertanggungjawaban hukum yang jelas,” ujar Sari.
Sari berharap tragedi ini menjadi momentum pembenahan nasional terhadap sistem pengawasan infrastruktur pendidikan berbasis masyarakat. Ia menilai, semangat gotong royong dalam membangun pesantren harus diiringi dengan kesadaran akan pentingnya standar keamanan dan keselamatan jiwa.
“Pesantren adalah rumah kedua bagi ribuan anak bangsa. Negara punya kewajiban moral dan hukum untuk memastikan tempat itu aman, layak, dan manusiawi,” tegasnya.
Berdasarkan data Basarnas, sebanyak 67 orang meninggal dunia dan 104 orang selamat dalam peristiwa ambruknya bangunan di Ponpes Al Khoziny. Polda Jawa Timur saat ini tengah melakukan penyelidikan atas dugaan unsur pidana yang menyebabkan tragedi tersebut.
Sari menutup pernyataannya dengan mengajak semua pihak untuk menjadikan insiden ini sebagai pelajaran berharga.
“Kita berutang nyawa kepada para korban. Jangan sampai tragedi seperti ini terulang hanya karena kelalaian dan lemahnya pengawasan,” pungkasnya (red)
Berita terkait
RUU Komoditas Strategis Dinilai Abaikan Potensi...
Kekerasan Anak di Sekolah Meningkat, DPR...
Geger Ibu Hamil Meninggal Usai Ditolak...
Selly Desak Revisi Jadwal Masyair Demi...
DPR Minta SOP Anti-Bullying Diterapkan di...
Rina Sa’adah Desak Usut Tuntas Kasus...
Berita Terbaru
Transformasi Digital Jadi Fokus Baru Pengajian...
Pengajian Al Hidayah Lantik Pengurus Baru...
